Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 40 - Kabur



...***...


"Seharusnya kau gunakan weekend-mu untuk membereskan kamarmu yang seperti kandang babi ini," gerutu Elvina. Ia lantas memasukkan pakaian kotor William ke dalam keranjang cucian yang sudah menggunung. Ia tidak habis pikir, kenapa William bisa betah tinggal dalam kamar yang berantakan seperti ini.


Elvina beralih membereskan meja belajar adiknya, menata kembali buku-buku yang semula berantakan.


"Kau sebentar lagi ujian, awas saja kalau nilaimu sampai turun hanya gara-gara kau terus bermain game!" tukas Elvina sambil menatap William tajam. Sedang yang di tatapnya hanya diam acuh dengan terus memfokuskan diri pada layar ponselnya.


"Baiklah," jawabnya setelah beberapa saat terdiam.


"Jangan tidur lewat dari jam sebelas malam!"


"Sip," balasnya santai.


Elvina melenggang pergi meninggalkan kamar William, menutup kamar adiknya itu, rapat-rapat lalu melanjutkan langkahnya menuju ruang dapur.



Tiba di sana, Elvina segera menegak habis gelas yang baru diisinya dengan air. Setelah itu, ia mengisi gelasnya lagi dan membawanya ke kamar agar tidak terus bolak-balik keluar kamar.


"Akhirnya tenggorokanku kembali basah." Elvina memonolog. Kakinya melangkah menuju kamar tidurnya.


Gradasi warna merah muda. Memang tampak feminim, tapi tidak ada yang tahu bahwa dibalik warna itu, sifatnya sangat bertolak belakang dari kata feminim.


Elvina sebenarnya adalah gadis yang tomboy, dan tidak terlalu feminim. Namun, entah kenapa walaupun tomboy. Ia sangat menyukai warna merah muda. Bahkan sampai kamarnya, ia cat dengan warna serupa.


Tukkk!


Elvina menaruh gelas ditangannya ke atas meja. Ia menarik kursi, menciptakan bunyi derit yang seketika memecah keheningan di kamarnya.


Baru saja ia hendak meraih pensil untuk mengisi soal latihan, tiba-tiba atensinya di sita oleh bunyi ponselnya yang tergeletak di atas wireless charger miliknya.


Elvina meraih ponselnya. Bunyinya mati seketika begitu benda itu dalam genggamannya.


Layar ponselnya menyala, menampilkan lock screen ponselnya yang menunjukan ada lebih dari tujuh puluh missed call dari nomor yang sama.


"Tante? Ada apa malam-malam begini telpon? Missed call-nya sampai lebih dari tujuh puluh. Sepertinya ada yang penting." Elvina memonolog.


Lebih baik aku telpon balik, takutnya ada sesuatu yang penting, pikir Elvina yang segera melakukan panggilan balik pada nomor tersebut.


Untuk sesaat hanya bunyi 'tuut…' yang terdengar menginterupsi gendang telinganya. Tak lama suara wanita dewasa di seberang sana terdengar disertai backsound hujan yang terdengar begitu jelas, dan hampir meredam suaranya.


"Halo, Tan? Maaf, baru Elvina angkat. Tadi Elvina habis dari da…"


"Elvina tolong, Tante!" potong wanita di seberang sana cepat. "Rei kabur dari rumah, dia bawa tas dan pergi pakai motornya."


"Apa?" Elvina membelalakkan mata. "Kenapa bisa, Tan? Apa yang terjadi?"


"Ini semua salah Tante. Tante dan Rei bertengkar hebat. Rei marah, lalu tiba-tiba memutuskan untuk pergi. Tante ingin kau membantu untuk menghentikan Rei. Tolong, Elvina…" Wanita di seberang sana terdengar sangat resah. Elvina ikut panik dibuatnya.


"B… baik, Tan. Elvina segera ke sana. Sekarang Tante dimana?"


"Tante sedang berusaha mencari Rei, Tante sempat mengikuti dia. Tapi, Tante kehilangan jejaknya. Sekarang Tante berada di jalan yang mengarah ke pelabuhan."


...***...