
...***...
"Kenapa kau diam saja?" tanya Leon. Elvina mendelik ke arahnya dengan raut wajah kesal.
"Kenapa bapak tidak melakukan ini sejak awal?" Elvina tak mengindahkan pertanyaannya.
"Melakukan… apa?" Leon menatapnya bingung.
Apa yang di maksudnya? Apakah yang di maksud Elvina adalah mengajaknya kencan seperti ini? Apakah jangan-jangan Elvina juga suka denganku, tapi dia pura-pura tidak suka? Leon bergumul dengan pikirannya.
"Kenapa bapak tidak menghubunginya lebih awal? Kalau tahu begitu saya tidak perlu mengikuti permintaan bapak untuk ikut. Seharusnya saya menolak, apalagi ini hari libur saya," gerutu Elvina yang kemudian melipat kedua tangannya di depan dada.
Leon tampak kecewa mendengar serentetan kalimat yang baru saja terlontar, berloncatan dari gigi dan mulutnya. Ekspektasinya tak sesuai dengan realita.
"Maksudmu, Irfan?" Leon memperjelas.
"Iya. Kenapa bapak tidak menghubunginya lebih awal? Dengan begitu saya tidak perlu mengikuti permintaan bapak, dan saya bisa menikmati waktu liburan saya. Oh, sudahlah. Toh saya juga yang bodoh, kenapa tidak kepikiran hal ini sebelumnya?"
"Dengar, aku tidak kepikiran untuk menghubungi Irfan karena pada saat kejadian mobilku mogok itu berada di area dekat rumahmu, jadi pikiranku mentok padamu yang tinggal di sana. Dan satu hal lagi, kalau kau tahu kita sedang tidak berada di kantor. Kenapa kau terus memanggilku dengan sebutan bapak? Bukankah itu terlalu berlebihan? Aku saja bahkan tidak setua itu, kita hanya berbeda beberapa tahun saja."
"Bapak itu atasan saya. Kalau saya tidak panggil 'bapak' lalu saya harus panggil apa?"
"Aku memang atasanmu, di kantor. Tapi ini di luar jam kerja, jadi kau bisa panggil aku Leon! Tanpa embel-embel 'pak' di depannya. Kalau orang lain mendengarnya, mereka pasti akan mengira kalau aku adalah ayahmu. Jadi, panggil aku Leon!" tuturnya penuh penekanan.
"Saya tidak bisa."
"Satu hal lagi! Jangan berbicara formal ketika berbicara denganku!" tegas Leon.
"Shh, aku bilang jangan bicara formal, dan panggil aku Leon!" Leon geram sendiri jadinya.
...*...
Waktu berlalu. Elvina dengan sangat terpaksa harus terjebak dengan Leon yang membawanya pergi ke beberapa tempat yang cocok untuk menghabiskan waktu.
Leon membawanya ke mall, berbelanja beberapa hal untuknya. Setelah itu menikmati makan siang bersama hingga Leon tanpa sengaja bertemu dengan Maxime dan Zabrina yang tak lain adalah kedua orang tuanya.
Leon sengaja tak membawa Elvina bertemu dengan mereka karena tidak ingin membuat Elvina semakin merasa tidak nyaman.
Setelah bertemu secara tidak sengaja, kedua orangtuanya tanpa di duga-duga mengikuti dan memata-matainya hingga mereka mengira kedua memiliki hubungan satu sama lain.
Leon membawa Elvina ke taman bermain dan menghabiskan waktu bersama. Bahkan mereka berdua tanpa sadar terlihat seperti sepasang kekasih yang tengah menikmati waktu kencan mereka bersama.
Elvina harus terjebak dengan Leon hingga malam tiba. Tapi walaupun begitu, tanpa sadar dirinya justru malah terhanyut dan menikmati semua waktunya bersama dengan Leon.
Setelah seharian menghabiskan waktu dengan Leon, seperti tujuan awal mereka. Leon dan Elvina akhirnya menghadiri acara pertemuan di ** Club.
Leon menghentikan mobilnya di tempat parkir. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam, memang masih terlalu dini untuk mengunjungi Club pukul segini, tapi baginya ini lebih baik daripada harus terus terjebak dengan Leon.
...***...