
...***...
Rei menghela napas panjang. Sudah berjam-jam dirinya dan Elvina mencari keberadaan William di segala tempat yang menjadi kemungkinan bagi mereka.
Tapi setelah pencarian panjang, mereka tak kunjung menemukan keberadaan William.
"Aku benar-benar bingung, apa yang harus kita lakukan sekarang?" Elvina semakin resah. Sejak kemarin ia merasa putus asa. Perasaannya berkecamuk, dan ia sama sekali tak bisa berpikir jernih.
Rei menghampiri wanita yang duduk di salah satu bangku di sana.
"Kita pasti akan bisa menemukannya," gumam Rei berusaha menenangkan.
Elvina tak membalas dan hanya diam sambil beradu tatap dengannya.
Rei tidak datang ke sekolah karena ingin membantu Elvina dan memastikan wanita itu masih dalam keadaan aman. Ia berharap Joe tidak menangkap Elvina untuk selanjutnya.
Kemampuan telepatinya bisa mendengar dengan jelas suara orang-orang yang kebingungan mencari dirinya.
Rei menghilang tanpa jejak seperti Lusia yang kini masih belum bisa ia temukan.
Rei sengaja menonaktifkan ponselnya agar tidak mendapatkan teror dari kedua sahabatnya yang berusaha mencari informasi mengenai kekasihnya. Akan panjang urusannya kalau Rei sampai mengaktifkan ponselnya.
Di saat yang bersamaan, ia juga bisa mendengar suara Isyana yang kebingungan mencarinya dan perdebatan antara Isyana dan asisten rumah tangga di rumahnya tentang kejadian kemarin.
Rei sebenarnya sempat pulang setelah mencari William bersama Elvina sepanjang malam. Tapi pagi tadi, saat ia memutuskan untuk membantu Elvina lagi, ia meminta bantuan Louis untuk menghapus ingatan semua orang di rumahnya tentang Rei yang sempat datang ke rumah dan menghapus rekaman CCTV di depan rumahnya.
Dengan begitu, mereka akan menganggap dirinya juga menghilang sejak kemarin.
Selain kedua hal tadi, Rei juga meminta Elvina untuk menonaktifkan ponselnya supaya Isyana tidak bisa menghubungi dirinya lalu menanyakan akan keberadaan Rei.
"Rei!" Elvina membuyarkan lamunannya. "Tidak bisakah kau mencoba mencari William dengan kemampuan menerawang yang kau miliki? Kau bisa melihat Will, kan?"
"Kau benar. Kenapa aku tidak kepikiran mengenai hal ini sejak kemarin?"
"Cepat cobalah, supaya kita bisa menemukan William secepatnya."
"Baiklah, aku akan mencobanya."
Rei menarik napas lalu menghembuskannya berulangkali. Setelah itu memejamkan kedua matanya dan memusatkan seluruh energinya pada satu titik.
...*...
Melinda membuka kedua matanya perlahan saat tangannya tak bisa merasakan keberadaan Andrich di sampingnya.
"Andrich?" Melinda mendongak, menatap ke sekeliling kamarnya.
Lelaki itu sama sekali tidak ada di sana.
"Kemana dia pergi?" gumamnya memonolog.
Melinda bangkit. Ia meringis pelan, memegangi bagian bawah perutnya yang terasa perih setelah pergelutannya semalam dengan Andrich yang tidak ada habisnya.
Kemana pria itu? Apakah dia sedang mandi?
Melinda menoleh ke arah kamar mandi. Pintunya terbuka, dan ia bisa melihat dengan jelas isinya kosong.
"Jam berapa ini?"
Melinda melirik jam yang tergeletak di atas nakes dekat ranjang tidurnya.
Ternyata sudah siang. Apakah dia pergi mencari makan? pikir Melinda yang kemudian melangkah turun dari ranjangnya.
Melinda menggunakan selimut untuk menutupi tubuh polosnya.
"Andrich?" panggilnya sambil menghampiri ruang ganti.
Tiba di sana, lagi-lagi ia tidak bisa menemukan keberadaan Andrich.
"Sepertinya benar dia mencari makan," lirihnya.
Lebih baik, aku mandi dan pergi mencarinya.
Melinda menghampiri kamar mandi, membersihkan tubuhnya lalu segera berpakaian dan mencari keberadaan Andrich yang hilang.
...***...