Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 153 - Irfan



...***...


Seseorang keluar dari dalam mobil. Elvina terkejut saat melihat siapa yang baru saja keluar. Itu Irfan, tangan kanan atau orang kepercayaan Leon di kantor.


"Irfan…" gumam Elvina sembari menatap lelaki yang baru saja keluar.


"Seperti yang bapak minta." Irfan menyodorkan kunci mobil ditangannya pada Leon.


"Terima kasih karena sudah datang tepat waktu." Leon tersenyum


"Hai, El. Wah… kau tampak sangat cantik mengenakan dress seperti ini," sapanya sambil tersenyum memperhatikan Elvina dari atas sampai bawah.


Leon melotot mendengar Irfan memuji wanita pujaan hatinya. Leon menjegal langkah kaki Irfan sampai membuat pria itu nyaris terjatuh, tapi beruntung ia bisa menahan tubuhnya agar tidak jatuh.


"Kau baik-baik saja?" tanya Elvina yang tampak terkejut melihat pria itu hampir jatuh.


"Aku baik-baik saja, kau tidak perlu cemas." Irfan tersenyum. Leon semakin kesal melihat Irfan yang terus saja menggoda pujaannya.


Leon menarik tangan Elvina dan segera membawanya masuk ke dalam mobil. "Ayo pergi," tutur Leon cepat sembari membuka pintu dan menyuruhnya duduk di kursi samping kemudi.


"Terima kasih sudah membawakan mobilku. Kau boleh pulang dengan taksi." Leon memberikan beberapa uang lembar seratus ribuan pada Irfan.


Leon menepuk pelan pundak Irfan lantas beranjak pergi meninggalkannya seorang diri di sana.


Irfan terdiam begitu mobil yang di tumpangi bosnya itu melaju meninggalkan dirinya seorang di tepi jalan.


"Sudahlah, yang terpenting tugasku di sini sudah selesai. Walaupun hanya menjadi jembatan untuk hubungan mereka, tapi aku senang bisa membantunya. Setidaknya agar Leon nantinya tidak di cap sebagai penyuka sesama karena terus melajang sampai saat ini." Irfan beranjak mencari taksi kosong untuk ditumpanginya.



...*...


Hening. Tidak ada sepatah kata pun yang terlontar dari bibir masing-masing. Semenjak meninggalkan tempat sebelumnya dengan Irfan di tepi jalan, baik Elvina ataupun Leon tak ada yang mau memulai pembicaraan hingga membuat keadaan begitu tenang.


Elvina terdiam merutuki kebodohannya. Kenapa dirinya begitu bodoh dan mau saja ikut dengan Leon padahal kalau keadaannya di pikirkan dengan kepala jernih, Elvina bisa saja meminta Leon untuk menghubungi Irfan lebih awal agar Elvina tidak perlu terjebak dengan si tukang perintah itu seperti saat ini.


Kenapa tidak terpikirkan olehku? pikir Elvina. Ia menghela napasnya panjang seraya menatap keluar jendela.


Leon melirik ke arah Elvina yang terus diam tanpa menoleh padanya. Wanita itu terlihat asik memperhatikan jalan di luar.


Padahal aku yang sangat tampan ini duduk tepat di sampingmu, tapi kenapa kau malah memilih untuk menatap jalanan? Apakah jalanan beraspal lebih menarik dariku? Leon membatin. Pria itu berdeham, memecah keheningan yang menyelimuti kebersamaan mereka.


Elvina bergeming, ia masih terus menatap ke arah luar jendela seakan tak perduli dengan sekitarnya.


"Kenapa kau diam saja?" tanya Leon yang akhirnya buka suara, sedikit mencairkan atmosfer beku yang sejak tadi menyelimuti kebersamaan mereka.


Elvina mendelik ke arah Leon dengan raut wajah kesal.


...***...