
...***...
"Dimana kau berada?" tanya pria itu pada agen yang di tugaskan mengejar Derek dan Pricilla, ia berbicara menggunakan telecosysnya sembari menempelkan ponselnya sebagai alibi.
"Aku sudah menemukan target kita, tuan. Keduanya sedang pergi ke toilet."
"Bagus. Terus awasi mereka. Aku akan segera menyusul. Apakah kau sudah tahu kemana mereka akan pergi?"
"Dari tiket pesawat yang aku lihat, mereka akan terbang ke Finlandia."
"Finlandia?" ulangnya.
Ternyata Derek benar-benar cerdik. Dia bahkan tahu kemana dia harus pergi ketika sedang dalam situasi seperti ini, batinnya.
"Baiklah, kau awasi dia. Kalau perlu kau ikut dengan mereka terbang ke Finlandia. Pokoknya jangan sampai gagal!"
"Di mengerti, tuan. Kebetulan aku sudah membeli tiket untuk mengikuti mereka menuju Finlandia."
"Kalau begitu sampai jumpa nanti."
"Baik, tuan."
Sambungan terputus. Lelaki itu berjalan menghampiri pemesanan tiket guna membeli tiket pesawat yang akan mengantarkan menuju Finlandia.
Belum sempat ia tiba di loker tiket, telecosysnya berbunyi hingga membuatnya mau tidak mau harus memutar arah menuju tempat yang lebih sepi agar orang-orang tak terganggu dengannya.
Lucy dan Aland masih bergerak mengikutinya dari arah yang berbeda. Keduanya bersembunyi di dinding agar lelaki itu tak menyadari akan keberadaan mereka.
"Ada apa?" Pria itu menatap lelaki yang baru saja menghubunginya lewat telecosysnya.
"Gawat, tuan! Terjadi kekacauan di laboratorium. Ada evolver mengamuk hingga membuat kekacauan, profesor di sandera dan kami tidak bisa masuk karena api membakar habis sebagian besar laboratorium."
"Apa?! Bagaimana bisa? Siapa yang melakukannya?"
"Edward, tuan. Pria yang sempat bertemu dengan Derek ketika dalam pengejaran."
"Betul, tuan. Dan kami tidak bisa menanganinya. Profesor sudah meminta kami untuk membawa serum penenang di dalam brankas, tapi kami tidak mengetahui kode untuk membukanya."
"Aku tidak akan bisa ke sana, karena aku juga sedang dalam pengejaran Derek."
"Lalu sekarang apa yang harus kami lakukan, tuan? Kami tidak bisa menanganinya."
Duarr!
Suara ledakan terdengar hingga menyebabkan layar hologram itu sedikit mengalami glitch akibat sinyalnya yang terganggu.
"Laboratorium satu meledak, tuan!"
"Apa?!"
"Apa yang harus kami lakukan sekarang? Edward semakin tidak terkontrol."
"Arghh, sial! Kenapa harus dalam situasi seperti ini?!" umpatnya penuh kesal.
"Kau coba untuk memastikan keadaan aman. Pastikan semua evolver masih berada di area pulau, dan jangan sampai mereka semua kabur! Aku akan ke sana secepatnya!"
"Baik, tuan."
Pria itu menekan tombol yang dalam sekejap memutus sambungannya dengan anak buahnya tadi.
Ia berlatih menghubungi agennya. Meminta lelaki itu untuk mengikuti Derek tanpa dirinya, karena ada masalah mendesak yang membuatnya tidak bisa terbang ke Finlandia mengejar Derek dan Pricilla.
"Aku akan menyerahkan tugas ini sepenuhnya padamu. Tapi ingat, ini untuk sementara waktu. Setelah urusanku di markas selesai, aku akan menyusulmu ke Finlandia. Aku akan pastikan, Derek turut dengan perintahku!" katanya penuh penekanan pada agen EA yang bertugas mengikuti Derek dan Pricilla.
"Baik, tuan. Aku mengerti."
Sambungannya di putus sepihak. Pria itu segera menghampiri loket tiket dan memesan tiket pesawat yang akan mengantarkannya pulang kembali ke Indonesia agar ia bisa tiba di markas dan membantu kekacauan yang sedang terjadi di sana.
Begitu mendapatkan tiket, dan penerbangannya akan segera take off, ia segera pergi.
...***...