Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 546 - Aneh 'kan?



...***...


"Jadi kalian butuh tempat tinggal?" Nils menyimpulkan.


"Benar. Bolehkah kami tinggal di sini?" tanya Rei.


"Tentu saja boleh. Aku justru senang kalau ada banyak orang yang tinggal di sini."


"Benarkah? Syukurlah."


"Ya, kalian boleh tinggal di sini selama urusan kalian belum selesai. Aku tidak keberatan sama sekali."


"Terima kasih," tutur Elvina.


"Bukan masalah. Kalau begitu, aku akan menyiapkan kamar untuk kalian tempati." Nils beranjak bangun dari tempat duduknya.


"Biar aku bantu." Lucy bangkit dari duduknya.


"Aku juga akan membantu," kata Aland yang ikut bangun.


Rei baru saja hendak bangun dan ikut membantu mereka. Tapi Elvina secepat mungkin menahan langkahnya.


"Tunggu dulu, ada yang harus kita bicarakan," tutur Elvina.


"Huh?" Rei menatapnya bingung.



"Rei, ayo!" teriak Aland.


"Kau duluan saja, aku menyusul nanti."


"Baiklah." Aland berlalu bersama Lucy dan Nils. Hendak membereskan kamar yang akan mereka tempati.


Rei menatap Elvina yang kini tampak memperhatikannya dengan begitu serius.


"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Rei yang penasaran dengan sikap Elvina yang mendadak seperti ini.


"Darimana kau kenal dengan Nils?" tanyanya.


"Nils? Oh, dia adalah orang yang sudah banyak membantuku."


"Saat aku terbangun di salah satu kapal seorang nelayan di pelabuhan daerah Tarakan ini, aku tidak tahu harus pergi kemana karena aku tidak ingat apa-apa. Kemudian, aku secara tidak sengaja bertemu dengan Nils. Lalu dia membawa serta merawatku selama beberapa bulan."


"Benarkah?"


"Ya. Setelah itu, karena aku ingin mengetahui identitasku yang sesungguhnya, aku memutuskan untuk berpisah darinya. Aku meninggalkan rumah ini dan mulai berkelana mencari jati diri dan identitasku yang sesungguhnya."


"Jadi… dia yang membantumu selama kau hilang? Tapi, kenapa kau bisa tiba-tiba ada di Tarakan? Apakah sebelumnya kau pergi ke suatu tempat?"


"Maksudmu?"


"Saat kau tiba-tiba ada di Tarakan, di kapal seorang nelayan, apa yang terakhir kali kau ingat?"


Rei terdiam sejenak, mencerna kalimat Elvina barusan.


"Tidak ada. Aku tidak ingat apapun kecuali aku membuka mataku dan tiba-tiba ada di Tarakan. Sebelum aku tidak sadarkan diri, aku tidak ingat apa-apa."


"Kapan kejadiannya terjadi?"


"Kejadiannya…" Rei mengerutkan kening. Berusaha mengingat kejadian saat itu. "Kurang lebih setahun yang lalu."


Elvina terdiam mendengar ucapan Rei. Ada sesuatu yang mengganjal di benaknya. Sesuatu yang terasa tidak masuk akal.


"Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti ini? Apakah ada sesuatu?" tanya Rei dengan wajah bingung.


"Ini benar-benar aneh, Rei." Elvina bergumam. Ia kemudian mendongak beradu tatap dengan Rei yang masih nampak tak mengerti dengan arah pembicaraan Elvina.


"Setahun yang lalu, kau menghilang di pelabuhan di Jakarta. Di saat itu juga, aku dan William tertangkap oleh profesor dan para penjaga yang kemudian mengubahku menjadi seorang evolver…"


"…Lalu setelah kami kembali. Kami tidak bisa menemukan kau dimana pun, dan kau bilang…"


"…Kau terbangun di Tarakan setahun yang lalu? Bukankah ini aneh? Kau menghilang di pelabuhan Jakarta, lalu tiba-tiba terbangun di Tarakan dalam keadaan ditemukan oleh seorang nelayan?" Elvina berusaha mencerna setiap keganjilan yang ada dalam otaknya.


Rei membulatkan mata. Ia baru sadar dengan arah pembicaraan Elvina ini.


"Kau benar… aku baru menyadarinya!" kata Rei.


"Aneh 'kan? Ini benar-benar membuatku heran…"


...***...