
...***...
"…Pada akhirnya aku memang berhasil mengeluarkan anak-anakku dari laboratorium mereka. Namun, lagi-lagi mereka berhasil menangkap anak-anakku dan terus membuatku menjadi salah satu buronan mereka," sambungnya setelah mengambil jeda sejenak. Dorothy menundukkan kepalanya, masih ada rasa sesak setiap kali dirinya mengingat kejadian yang sampai saat ini begitu membekas dalam ingatannya. Ia masih bisa mengingat dengan sangat jelas bagaimana kejamnya orang-orang itu merebut paksa kedua anaknya.
"Lalu… bagaimana kau bisa bersembunyi dari mereka?"
"Setelah kejadian itu, aku bersembunyi di hutan ini. Aku membangun rumah di atas pohon, dan terus memikirkan cara untuk menemui anak-anakku. Sampai suatu hari… aku menemukan seorang evolver yang melarikan diri dari laboratorium, dan dia adalah Luna." Dorothy mendongak menatap salah satu wanita yang berdiri di lapangan. Wanita itu memiliki tubuh yang tinggi dengan kulit agak kecokelatan, dan rambut panjang hitam yang diikat satu ke belakang, style-nya tomboy nyaris sama dengan Amanda yang duduk di sampingnya.
"Luna di kejar-kejar oleh para penjaga dan aku menolongnya, aku segera membawanya ke tempat persembunyianku. Sejak saat itu, aku mengurus Luna dan membantunya menguasai kekuatannya. Luna memiliki kekuatan ilusi, hal itulah pada akhirnya kami gunakan untuk menciptakan desa tidak terlihat ini. Dengan kekuatan Luna, kami membuat perisai ilusi, sehingga desa yang kami bangun tampak seperti bagian hutan lainnya."
Oh, jadi itu alasannya kenapa desa ini di sebut Invisible Village, dan alasan kenapa para penjaga tidak menemukan kami sampai sekarang? batin Elvina.
"Sejak kejadian itu, ada lebih banyak orang yang melarikan diri, dan aku bersama Luna bekerja sama untuk melindungi mereka di desa ini."
"Jadi sejak saat itu, kau bersama mereka?"
"Iya. Selain bertambahnya penduduk di desa ini… desa juga perlahan-lahan berubah dari yang awalnya hanya desa yang sangat sederhana jadi seperti ini. Itu berkat bantuan dari Fero, Hera, Daisy, dan Kevin. Mereka yang telah membuat bangunan di sini, ranjang dan selimut yang lembut, lalu alat makan, serta cahaya sebagai penerang malam kami."
Perhatian mereka secara tiba-tiba beralih pada suara seorang perempuan yang berteriak menyerukan nama Dorothy.
"Aku harus pergi," kata Dorothy seraya bangkit dari tempat duduknya. Elvina hanya mengangguk sebagai jawaban, selanjutnya Dorothy menghilang dari pandangannya.
Sepeninggalan Dorothy, Elvina kembali fokus pada orang-orang yang berada di lapangan. Tanpa Elvina dan Dorothy sadari, sejak tadi obrolan mereka di rekam oleh wanita yang sejak dari tadi berada tak jauh dari tempat mereka.
...*...
Malam tiba, semua penduduk desa tengah duduk bersama di depan api unggun yang berkobar menghangatkan tubuh mereka.
Mereka semua duduk berkumpul mengitari api, beberapa orang bernyanyi sambil memainkan alat musik. Sebagian hanya duduk dan menikmati suara yang menenangkan mereka.
Langit sama seperti sebelumnya. Masih berhiaskan cahaya bintang dan bulan purnama yang terang.
Elvina dan William terduduk bersebelahan. Sementara yang lain sibuk menikmati lagu yang mereka nyanyikan, beda halnya dengan Elvina yang sejak tadi diam menatap kosong ke arah api yang berkobar dihadapannya. Keadaan ini, membuatnya ingat pada Rei.
...***...