
...***...
Ketiganya meluncurkan jatuh ke bawah jurang dengan bantuan yang terikat pada dahan pohon besar yang ada. Tapi tidak lama, ikatan pada dahan itu langsung lepas begitu mereka meluncur melewati pohon tersebut.
Elvina yang menyadari tanda bahaya, segera menggerakkan tangannya. Kali ini kembali membuat perisai yang sama, sialnya tak bertahan lama karena tenaganya yang benar-benar sudah terkuras habis.
Mereka sempat memantul beberapa kali sebelum akhirnya terperosok jatuh di antara pepohonan lebat dan tanah yang tidak rata.
Ketiganya terpelanting dari posisi semula. Jatuh cukup berjauhan dan spontan tidak sadarkan diri begitu tubuh mereka meringsak diantara hutan belantara yang tanahnya dipenuhi dengan daun kering.
Di sisi lain, di atas sana. Joe yang baru tiba di luar segera berlari menuju arah evolver penjaga lain dan berdiri di ujung tebing. Asap yang menyelimuti mereka berhasil hilang dari pandangan mereka sehingga membuat mereka mampu melihat ke bawah sana.
Joe menunduk menatap ke bawah jurang. Elvina, William, dan wanita yang baru saja mereka tangkap itu telah hilang dari pandangan mereka. Ketiganya raib, jatuh entah dimana.
"Mereka berhasil lari." Joe panik bukan main.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya salah satunya.
Joe menatapnya tajam. "Segera siapkan tim untuk mencari mereka. Apapun yang terjadi, kita harus menangkap mereka. Kalau tidak, profesor akan marah besar," ujar Joe.
...*...
Elvina membuka kedua matanya perlahan. Ia merasakan kepalanya terasa sedikit sakit, apalagi pada bagian belakang.
Ia meringis. Hal pertama yang dilihatnya saat pertama kali membuka mata adalah wanita berjilbab hitam yang sama.
Pandangan Elvina mulai terlihat jelas. Ia bangun secara perlahan dan duduk di tempatnya.
"Syukurlah kau sudah bangun," ucap seorang wanita yang dalam sekejap menyita perhatian Elvina.
Elvina menoleh ke arah datangnya suara dan melihat wanita tadi berjalan bersama seorang wanita lain yang lebih tua darinya. Wajahnya di hiasi dengan kerutan yang menandakan bahwa usianya tidak lagi muda.
"Dimana aku? Mana adikku?" tanya Elvina padanya.
"Minum ini dulu." Wanita tua itu menyodorkan gelas di tangannya ke arah Elvina tanpa menjawab pertanyaan yang ia lontarkan. Elvina segera meraihnya, meneguk air di dalamnya secara perlahan hingga isinya habis. Rasanya benar-benar menyegarkan.
Elvina menyodorkan kembali gelas yang kosong itu padanya. Wanita tua tadi segera menaruhnya di atas meja kayu kecil di tepi ranjang tempatnya terbaring.
"How do you feel?" Wanita berjilbab tadi bertanya dan duduk di tepi ranjangnya. Ia menatap Elvina dengan raut wajah berbinar.
"I feel better," jawab Elvina walau sedikit terdengar ragu-ragu karena dirinya tidak terlalu fasih dalam berbahasa Inggris.
"Wait. I will call your brother," katanya sembari bangun dari tempat duduknya dan segera berlari menuju arah pintu keluar. Ia berteriak memanggil William yang berada di luar.
Elvina terdiam memandangi wanita yang berdiri di ambang pintu dan berteriak memanggil nama William. Fokus Elvina terbagi. Ia menoleh ke arah wanita tua yang kini duduk di tepi ranjangnya.
"Biar aku periksa keadaanmu," ujarnya yang mulai memeriksa keadaan Elvina untuk memastikan ia baik-baik saja setelah terjatuh dari jurang setinggi puluhan meter.
...***...