Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 110 - Tanpa jejak



...***...


"Rei, kau sudah sadar." Elvina berjalan menghampiri Rei dan duduk di tepi ranjang tidurnya.


Rei hanya diam tak menjawab, ia beradu pandang dengan Elvina yang baru saja tiba di dalam kamarnya.


"Kau baik-baik saja? Kau tampak pucat, bahkan kau berkeringat." Elvina mengulurkan tangannya, mengusap keringat yang mengucur membasahi wajah Rei. "Rei?"



Elvina kembali memanggilnya, dan kali ini berhasil membuat Rei tersadar dari lamunannya.


"Ah, ya? Ada apa?" Rei bingung.


"Kau baik-baik saja?" Elvina memastikan, sejak tadi tak ada jawaban dari lelaki yang menjadi sepupunya itu.


"Y… ya, aku baik-baik saja. Aku… hanya bermimpi buruk," gumam Rei pelan.


"Syukurlah kalau kau baik-baik saja. Aku kira kau sakit."


"Tidak."


"Bagaimana dengan keadaanmu? Apakah kau merasakan sakit atau semacamnya? Aku cemas melihat kau tidak sadarkan diri di hutan tadi. Apalagi setelah aku tahu kalau Joe juga sempat pergi ke tempat dimana motor milikmu berada."


"Aku sempat terkena tem…" Rei terdiam. Kedua tangannya bergerak memegangi bagian tubuhnya yang semula terluka. Ia terkejut bukan main begitu sadar kalau semua bekas lukanya benar-benar hilang tanpa jejak.


A… apa ini? Padahal aku jelas-jelas ingat kalau aku terluka parah akibat serangan dari salah satu anak buahnya Joe, bahkan kulitku terkoyak karena aku memberontak. Tapi kenapa semuanya tiba-tiba hilang? batin Rei. Tangannya kembali bergerak mengeceknya berulang kali, dan hasilnya tetap sama. Rei tak dapat menemukan luka sedikitpun ditubuhnya, bahkan dirinya tak merasakan sakit sama sekali. Tubuhnya terasa segar bugar seperti seseorang yang baru saja bangun tidur setelah melewati hari yang begitu melelahkan dan tertidur pulas.


"Rei?" Elvina menepuk pundaknya pelan.


"Syukurlah kalau tidak ada yang kau rasakan, aku benar-benar lega mendengarnya. Itu artinya, Joe tidak berhasil melukaimu." Elvina menghela napas lega, sedangkan Rei masih diam dengan terkejut. Ia masih tidak dapat mengerti kenapa semua luka ditubuhnya bisa tiba-tiba menghilang, bahkan tanpa jejak sedikitpun.


"Omong-omong ini sudah waktunya makan malam. Ayo bangun, kita makan malam bersama. Will sudah menunggu di bawah." Elvina bangun dari tempat duduknya.


"Ng. Aku akan menyusul, kau duluan saja."


"Baiklah." Elvina pergi meninggalkan Rei seorang diri di dalam kamarnya. Begitu pintu tertutup, Rei segera melangkah turun dari ranjang tidurnya. Ia bergerak cepat melepaskan kaosnya dan berdiri di depan cermin guna memastikan.


"B… bagaimana bisa?" Rei mengerutkan keningnya begitu melihat tubuhnya yang benar-benar mulus tanpa lecet sedikitpun.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa semua lukaku hilang? Ini aneh…"


...*...


Joe tersadar. Ia membuka kedua matanya. Mengerjap beberapa kali hingga pandangannya benar-benar jelas. Ia meringis kesakitan saat beberapa bagian tubuhnya terasa begitu sakit. Sensasinya seperti panas bercampur perih di sekujur tubuhnya.


"Arghh…" Joe berusaha untuk bangun dari tempat pembaringannya.


"Kau tidak boleh terlalu banyak bergerak untuk sekarang." Suara seorang laki-laki menyita perhatiannya. Joe menoleh ke arahnya. Ia membelalakkan mata begitu sadar siapa yang dilihatnya.


"P… prof…" Joe terbata. Lelaki itu berjalan menghampiri dirinya dengan beberapa lembar kertas digenggamannya.


Profesor menghampiri meja yang ada di dekat ranjang tidur Joe. Tangannya bergerak menyapu udara hingga hologram muncul dihadapannya menampakkan kondisi tubuh Joe saat ini.


"Kau terluka parah…"


...***...