
...***...
Louis… batin Rei. Bayangan Louis yang dilihatnya mendadak pudar dan samar-samar tembus pandang. Tak lama kemudian bayangannya hilang.
Rei semakin memberontak. Ia bangkit dan berusaha untuk keluar dari ruangan itu. Ia harus memastikan Louis benar-benar ada di sana.
"Louis!" panggilnya. Namun lelaki itu sama sekali tak muncul dihadapannya seperti yang seharusnya.
"Lepaskan aku!" teriak Rei sekali lagi dengan penuh emosi.
Alih-alih mendengarkan ucapannya, Miles hanya diam dan menatapnya tanpa ekspresi.
Tidak! Louis! Datanglah. Jangan pergi! Aku mohon jangan tinggalkan aku…
Aku…, tidak ingin sendirian lagi.
Rei memejamkan kedua matanya. Tangannya semakin terkepal erat.
Rei mulai merasakan dadanya sesak, dan ia matanya terasa panas. Ia hampir menangis.
"Lepaskan aku…" ucap Rei lagi. Namun kali ini dengan suara lirih.
"Kau belum siap untuk lepas dari sini," jawab Miles.
"Arghh!! Lepaskan aku!"
Rei berteriak kencang. Lelaki itu spontan beranjak bangun dari posisinya. Menarik rantai pada lehernya hingga terbelah.
Miles yang melihat itu seketika tercekat. Ia membelalakkan matanya. Rei kembali kehilangan kendali, dan emosinya semakin tidak stabil.
Trang!
Rei melepaskan semua rantai yang mengikat tubuhnya. Miles yang melihat itu tidak bisa diam saja. Tangannya segera bergerak merogoh obat bius yang selalu dia sediakan di dalam jasnya. Ia selalu bersiap untuk situasi semacam ini.
"Aku tidak akan membiarkanmu keluar dari sini!" Miles berlari ke arahnya. Hendak menyuntikkan obat bius itu pada Rei. Tapi tanpa di duga, Rei lebih dulu menghentikannya.
Lelaki itu mencekik Miles hingga Miles tidak bisa bernapas. Sementara itu, sebelah tangannya yang lain bergerak mengambil jarum untuk yang di genggamannya.
"Akh—" Miles meringis menahan sakit pada leher dan tangannya. Pergelangan tangannya kini di cengkram oleh lelaki itu sampai membuatnya kesakitan.
Setelah berusaha keras mempertahankan obat bius dalam genggamannya, pada akhirnya dia gagal juga.
Jarum suntik itu terjatuh di lantai, dan Rei dengan sekali hentakan langsung menghancurkan suntikan itu hingga isinya keluar.
Miles membelalakkan mata. Ia gagal melumpuhkan Rei.
"Tidak ada lagi yang bisa kau lakukan sekarang!" Rei mendorong tubuh Miles ke arah dinding. Mendorongnya hingga lelaki itu semakin tidak bisa bernapas.
Miles berusaha mencari tombol untuk memanggil para penjaga. Ia terus meraba dinding hingga tombol itu berhasil dia temukan.
"Profesor…"
Beberapa penjaga mulai berdatangan dan berusaha untuk melumpuhkan Rei. Mereka menembak Rei dengan pistol berisi obat bius. Tapi sialnya entah kenapa benda itu tak berfungsi sama sekali.
Rei bahkan tak merasakan reaksi dari obat bius itu.
"Lepaskan dia!" teriak salah satu penjaga sambil terus menembaknya.
"Arghh!!" Rei mulai terganggu. Dia sebelah tangannya, ia menarik setiap peluru obat bius yang tertancap pada punggungnya dan meremas benda itu hingga hancur berkeping-keping.
Darah merembes keluar dari tangannya. Tapi anehnya Rei sama sekali tidak merasa kesakitan sama sekali.
"Kalian…" Rei beralih fokus pada para penjaga.
Orang-orang yang berdiri dengan pistol mereka itu seketika membatu di tempatnya saat melihat sorot mata Rei yang begitu tajam, di tambah lagi ruangan yang gelap membuat mata Rei seolah bercahaya.
Mereka mendadak diam ditempat.
...***...