
...***...
"Shh… ahh… untuk pertama kalinya aku kewalahan menghadapi seorang pria," lirihnya sembari menahan sakit pada bagian bawah perutnya.
Sialnya milik Andrich terlalu besar, bahkan kalau dibandingkan dengan seluruh pria yang pernah ia tiduri selama ini, Andrich yang paling besar dan paling tangguh. Pria itu bahkan berhasil mengalahkannya.
Melinda berusaha untuk bangun dari pembaringannya, ia masih harus pergi menyelesaikan tugasnya. Tapi sialnya tubuhnya terlalu lemas, kedua tangan dan kakinya bahkan gemetar hebat saking tak bertenaganya.
...*...
Andrich berdiri di bawah air shower yang kini membasahi tubuh polosnya.
Brakk!
Tangannya menghantam keras tembok di dekatnya.
"Sial! Dia berhasil membuatku terpacing. Padahal selama ini aku berusaha menahannya agar kejadian dulu tidak terulang kembali. Kalau seperti ini jadinya, aku harus segera menemui profesor dan meminta serum pengontrol agar aku bisa fokus mengerjakan misiku," gumamnya pelan. Andrich menengadah, membuat air shower itu membasahi wajah tampan dengan rahang tegasnya.
"Shh…" Ia meringis saat rasa perih menjalar pada bagian punggungnya akibat bekas cakaran Melinda ketika wanita itu berada dalam dekapannya, menahan miliknya sembari berpegangan.
...*...
"Apa yang kau cari?" tanya profesor begitu mendapati Andrich tiba di laboratorium. Tidak biasanya pria itu berkunjung ke lab kalau tanpa alasan yang jelas.
"Prof… aku mencari serum pengontrol yang dulu profesor berikan padaku. Persediaanku habis," ujarnya sambil menunjukkan sebuah botol kaca kecil yang kosong.
Pria itu mengerutkan keningnya. "Kenapa kau membutuhkannya? Bukankah seharusnya kau sudah bisa mengontrol semua hormon dan sistem dopamine di otakmu?"
"Huh? Oh, itu… hanya untuk berjaga-jaga saja, prof."
"Itu…" Andrich terdiam, ia bingung harus menjelaskan apa.
"Sudah aku duga," ujar profesor yang kemudian menghampiri salah satu laci dekat meja kerjanya. Mengambil sebuah botol kaca berisi serum berwarna hijau terang yang lantas diberikan pada Andrich. "Minum ini secepatnya, dan gunakan secara teratur!"
"Baik, prof. Kalau begitu, aku permisi." Andrich membungkuk sebelum kemudian beranjak meninggalkan laboratorium.
Saat berjalan di koridor, Andrich berpapasan dengan tuannya.
"Kebetulan sekali kita bertemu di sini. Gunakan ini sementara waktu sampai telecosys milikmu selesai di perbaiki. Jangan sampai aku kesulitan untuk menghubungimu lagi." Pria itu menyodorkan telecosys miliknya untuk di gunakan Andrich sementara waktu.
"Baik, terima kasih, tuan." Andrich segera menggunakan telecosys itu di pergelangan tangannya.
"Omong-omong apa yang baru saja kau lakukan di laboratorium?"
"Aku hanya meminta serum pengontrol dari profesor sebagai persediaanku," ujarnya beralasan.
"Persediaan? Bukankah kau seharusnya sudah bisa mengontrol dirimu? Kenapa kau membutuhkannya? Apakah ada yang sudah memancingmu sampai kau membutuhkannya lagi?"
Andrich terdiam mendapati pertanyaan yang sama dari tuannya. Pria itu tahu betul kalau Andrich sebenarnya tidak membutuhkan benda itu, terlebih setelah kejadian setahun lalu, ia sudah benar-benar bisa mengontrol dirinya.
Tapi, tiba-tiba membutuhkan benda itu? Tidak mungkin kalau tanpa alasan yang jelas. Pasti ada yang sudah memicu sisi gelapnya kembali.
"Kau diam, itu artinya benar. Siapa yang sudah memicu itu kembali?"
"Maaf, tuan. Tapi aku harus pergi secepatnya, sebentar lagi waktunya sekolah. Aku harus bersiap," ujarnya. Andrich berlalu meninggalkan tuannya seorang diri di koridor.
Aneh, pikir tuannya.
...***...