Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 547 - Berutang penjelasan



...***...


"Rei!" panggil Nils, membuat atensi beralih pada lelaki yang baru saja tiba itu.


"Nils."


"Apa yang sedang kau lakukan di sini? Kau belum tidur?" Nils menghampiri Rei yang tengah terdiam di beranda rumahnya.


Berdiri menghadap ke arah halaman samping rumahnya.


"Aku tidak bisa tidur."


"Ada yang mengganggu pikiranmu? Biasanya kalau kau tidak bisa tidur, itu artinya kau sedang memiliki banyak pikiran."


"Haha, kau masih ingat saja dengan itu."


"Tentu, kita tinggal bersama cukup lama. Jadi aku tidak akan bisa lupa akan setiap kebiasaanmu."


"Ya, kau benar…"


"Jadi, apa yang mengganggumu? Ceritakan padaku agar kau tidak menanggung semuanya sendirian."


"Aku hanya kepikiran mengenai alasan kenapa aku bisa hilang ingatan." Rei menundukkan kepalanya. Tatapannya berubah sendu.


Nils menaikkan sebelah alisnya dengan raut wajah bingung.


"Kau masih belum berhasil mengingat masa lalumu?"


Rei menggelengkan kepalanya pelan. "Belum."


"Tapi kalau kau masih belum ingat akan masa lalumu, lalu kenapa kau datang bersama dengan orang-orang itu? Kau bilang mereka adalah temanmu 'kan?" Nils tidak mengerti.


Rei mendongak. Beradu tatap dengan Nils yang kini memandanginya.


"Sebenarnya sebagian ingatanku sudah kembali. Yang tersisa hanya alasan kenapa aku bisa sampai amnesia dan dulu bisa jauh dari keluargaku. Semakin lama aku memikirkannya, aku semakin merasa bingung."


Tep!


Nils menepuk pelan pundaknya. "Aku yakin, cepat atau lambat ingatanmu akan kembali. Semuanya hanya tentang waktu."


"Semoga."


"Omong-omong bagaimana kau bisa kenal dengan mereka? Kau berutang banyak penjelasan padaku. Pasti ada banyak hal yang aku lewatkan selama kita berpisah."


"Ya, kau melewatkan banyak sekali hal. Mengenai mereka, sebenarnya Elvina dan William adalah sepupuku."


"Sepupumu?"


"Di mana kau bertemu mereka?"


"Jakarta."


"Sungguh?" Nils membulatkan mata mendengar apa yang di dengarnya.


"Kenapa kau tampak begitu terkejut?"


"Aku hanya tidak percaya ternyata keluargamu ada di sana."


"Aku juga tidak menyangka."


"Bagaimana dengan Liana dan Aland? Dari bahasa yang mereka kuasai, sepertinya mereka belum pernah tinggal di Indonesia sama sekali."


"Mereka temanku. Sebenarnya, Liana adalah sepupu dari bosnya Elvina di kantor. Kami bertemu secara tidak sengaja, dan kebetulan memiliki satu tujuan yang sama."


"Wah, aku tidak menyangka. Ternyata ada lebih banyak hal yang aku lewati. Pokoknya kau harus menjelaskan semuanya!"


"Pasti akan aku jelaskan. Tapi, omong-omong kau tidak tidur? Apakah besok kau tidak bekerja?"


"Aku akan tidur setelah mengambil air minum. Ketika aku senggang, ceritakan semuanya padaku!" Nils beranjak dari tempatnya, melangkah menuju dapur untuk mengambil air minum.



...*...


Lucy melirik ke arah ranjang tidur tempat dimana Elvina terbaring. Wanita itu tampak sedang tertidur dengan begitu pulas.


Dia sepertinya sangat kelelahan, pikirnya.


"Lou, aku berhasil melacak keberadaan mereka!" Suara Ethan di seberang sana di dengarnya. Membuat atensi Lucy seketika beralih pada handsfree yang terpasang pada telinganya.


"Kirimkan lokasinya secepat mungkin!"


"Akan aku kirimkan."


Ethan terdengar sibuk dengan keyboard komputernya. Lucy membuka laptopnya, mengutak-atiknya sebentar sampai akhirnya dia berhasil menangkap lokasi yang di kirimkan oleh Ethan.


"Aku sudah menerimanya."


"Baguslah."


"Dari titik yang ada di sini, lokasinya tidak terlalu jauh dari pelabuhan. Selain itu kalau di cek ulang, pelabuhan juga dekat dari sini."


...***...