Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 96 - Nils



...***...


Bandara Internasional Juwata-Kalimantan, Indonesia, saat ini.


2020


Pria berkulit putih khas orang Eropa itu berdiri di pintu kedatangan dalam negeri, menunggu seseorang yang beberapa jam yang lalu ditelponnya.


"Seharusnya dia sudah sampai," gumamnya sambil menatap telecosys yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.


"Nils!" Seseorang berteriak menyerukan namanya. Atensi pria itu seketika beralih padanya.


Di sana, diantara orang-orang yang berhamburan keluar, seorang laki-laki berdiri dengan menggunakan mantel berwarna krem. Ia tersenyum seraya melambaikan tangan ke arahnya. Di punggungnya, ia menggendong tas backpack berwarna hitam yang cukup besar.


"Derek." Nils Zoilos, balas tersenyum sambil melambaikan tangannya. Lelaki kelahiran Norwegia itu lalu menghampiri Derek yang sejak tadi ditunggunya di sana.


"Senang akhirnya bisa bertemu denganmu. Bagaimana kabarmu? Sudah lama kita tidak bertemu." Nils menyalami Derek yang baru tiba.


"Kabarku baik. Aku juga benar-benar senang bisa bertemu denganmu lagi setelah hampir satu tahun tidak bertemu."


"Baiklah, ayo. Aku sudah menyiapkan mobil agar kita bisa segera pergi ke tempatku dan kau bisa beristirahat."


Nils berjalan beriringan dengan Derek, melangkah menuju keluar bandara untuk bisa tiba di tempat parkir dan pulang guna beristirahat.



"Bagaimana perjalananmu? Apakah selama di bandara menyenangkan?" Nils dan Derek, saat ini sudah berada dalam mobil. Mereka sedang dalam perjalanan pulang kembali ke kediaman Nils.


"Ya, begitulah. Tidak terlalu buruk, mungkin karena aku sudah lama tidak naik pesawat. Oh ya, omong-omong aku kira awalnya kau berada di Oslo, tapi ternyata kau di Indonesia. Sejak kapan kau kembali?"


"Sepertinya memang begitu. Lagipula karena kau terlalu sibuk, kau jarang menghubungi."


"Haha, begitulah. Lalu, bagaimana Jakarta?"


"Tidak ada yang spesial bagiku. Mungkin karena sudah tinggal di sana selama bertahun-tahun, jadi semuanya terasa biasa."


"Oh, ya?"


"Kenapa kau tidak coba untuk tinggal di ibukota? Bukankah itu ide yang bagus? Lagipula kau bisa lebih mengembangkan bisnismu di sana, banyak orang yang pastinya akan tertarik bekerjasama dengan perusahaan besarmu."


"Ikke nå! Mungkin lain kali, karena pekerjaanku di Kalimantan saja sudah banyak, belum lagi ditambah dengan proyek yang harus aku tangani di Oslo juga," ujar Nils yang terlihat terbebani dengan usulan dari Derek. Sedang lelaki yang baru saja mengutarakan usulannya itu hanya terkekeh menanggapi ucapannya.


(Tidak untuk sekarang!—dalam bahasa Norsk/Norwegia)


"Hahaha baiklah, terserah kau. Lagipula kau yang menjalani semuanya, aku hanya memberikan usulan."


"Bagaimana kabar Joe?" Tiba-tiba Nils mengalihkan pembicaraan. Derek menoleh ke arahnya sekilas. Ia tahu kalau hal ini pasti akan terjadi, dan Derek sudah mengantisipasinya lebih dulu.


"Baik. Dia sehat seperti biasanya."


"Benarkah? Lalu, bagaimana dengan tugasnya?"


"Seperti yang aku bicarakan di telpon tadi, bahwa dia masih belum bisa menangkap mereka. Tampaknya selama kurun waktu satu tahun, mereka sudah bisa menguasai dengan baik kekuatan yang mereka miliki." Derek mengalihkan pandangannya keluar jendela, menatap bangunan-bangunan yang sejak tadi seakan bergerak beriringan dengan laju kendaraan mereka.


"Ya, memang benar. Mudah sekali untuk menguasai kekuatan."


...***...