
...***...
Louis berdiri di hadapan mereka. Ia merentangkan kedua tangannya, lalu tak lama menggerakkan kedua tangannya hingga cahaya menyilaukan muncul menyelimuti mereka.
Rei, dan Elvina menutupi pandangan mereka dengan menggunakan tangan mereka. Begitu juga dengan profesor dan evolver penjaga yang ada di sana.
Dalam hitungan detik, Rei, Elvina, dan William hilang tanpa jejak.
"Mereka hilang!"
"Apa?!" Profesor membelalakkan mata ketika menyadari Rei dan yang lainnya lenyap dari pandangan mereka tanpa jejak.
"Bagaimana bisa?" Profesor tak bisa percaya dengan apa yang mereka lihat.
...*...
Louis memindahkan Rei dan yang lainnya ke tempat yang lebih aman. Mereka muncul di sebuah gang kecil yang letaknya jauh dari tempat dimana para evolver tadi yang berusaha menangkap mereka.
Rei dan Elvina membuka kedua matanya mereka ketika akhirnya cahaya itu lenyap dari pandangan mereka.
Elvina menatap ke sekeliling dengan wajah bingung. "Dimana kita berada? Kenapa kita tiba-tiba ada di sini?"
Rei terdiam, ia menatap Louis yang kini hanya diam dengan kepala tertunduk. Raut wajahnya entah kenapa berbeda dari biasanya.
"Itu tidak penting, yang terpenting ayo kita bantu sadarkan Will." Rei mengalihkan topik pembicaraan.
"Kau benar." Elvina merebahkan tubuh adiknya itu di lantai, lalu berusaha untuk membuatnya sadar dengan Rei yang juga ikut membantu.
Setelah beberapa saat berusaha, akhirnya William sadarkan diri. Ia membuka kedua matanya dan tampak bingung saat Elvina dan Rei menatapnya dengan wajah cemas.
"Kita dimana? Apa yang terjadi?" William tidak bisa ingat apa-apa.
"Kita jelaskan nanti. Sekarang biar aku antarkan kau pulang." Rei membantu William bangun.
"Baiklah," lirihnya.
Rei membantu William naik ke atas motornya dan membawanya pergi meninggalkan Elvina yang tak lama juga ikut pergi.
Elvina harus bergegas pergi ke kantor karena ia sudah benar-benar terlambat.
...*...
Rei memarkirkan motornya di lahan parkir yang tersedia di sana. Setelah mengantarkan William pulang, Rei segera pergi ke sekolah walaupun ia sudah sangat terlambat.
Sekolah sudah begitu tenang, di tambah pintu gerbang sudah tertutup pertanda bel telah berbunyi dan semua orang sudah berada di dalam kelas mereka masing-masing.
Rei berencana untuk masuk lewat dinding samping dan menyelinap masuk ke dalam ruang kelasnya. Ia hanya berharap guru belum datang ke dalam kelasnya.
Sebelum pergi, Rei menatap Louis yang sejak tadi tak dimintanya untuk pergi. Ada yang ingin ia tanyakan pada lelaki albino itu mengenai kejadian beberapa saat yang lalu.
"Louis," panggilnya yang membuat lelaki itu menoleh ke arahnya.
"Ada apa, tuan?"
"Kenapa kau bisa bertindak secepat itu padahal aku belum menjelaskan situasinya padamu? Kau terlihat menyembunyikan sesuatu tadi. Apakah ada yang kau sembunyikan?" tanya Rei.
"Aku hanya berusaha melindungi tuan, serta Elvina dan William."
"Lelaki yang aku lihat itu… yang Elvina sebut profesor. Dia adalah orang yang sama yang selalu muncul dalam mimpi yang selama ini menghantui tidurku 'kan?" Rei mengingat kembali wajah pria yang di sebut Elvina sebagai profesor.
Louis terdiam ia menundukkan kepalanya tak berani beradu tatap dengan Rei.
"Kenapa kau diam? Apakah apa yang aku katakan itu benar? Dia orangnya?"
...***...