
...***...
Pulau yang sama, saat ini.
2020
Cato menghela napas panjang. Pria itu lantas berbalik, melangkahkan kakinya meninggalkan laboratorium tempat mereka akan melangsungkan proses pengaktifan pada chipset di otak Lusia. Dengan mengaktifkan kekuatan Lusia, maka mereka akan bisa dengan mudah mengontrol semua evolver yang ada lewat gadis itu.
Tak lama setelah pria itu beranjak pergi, Martin melangkah masuk ke dalam ruangan dan berjalan menghampiri tabung berisi tubuh Lusia yang mengambang di dalam sana. Pria itu terdiam di depan tabung, menatap wajah Lusia yang masih tampak tenang dengan mata terpejam. "Kau akan menjadi alat perlindungan paling mematikan untukku. Karena setelah kau aktif R31 sekali pun tidak akan pernah bisa menyentuh, atau melukaiku..."
Martin menarik sebelah sudut bibirnya, membentuk seringai. Sebuah permulaan besar-besaran baru saja akan dimulai.
...*...
"Dengan jumlah kita yang sedikit akan mustahil untuk kita bisa menang," gumam Joe dengan raut wajah ragu. Semua orang terdiam. Bagaimanapun ucapan dari Joe benar. Jumlah mereka terlalu sedikit dan akan sangat mustahil mereka akan bisa menang melawan Martin dan Cato yang bahkan memiliki lebih banyak prajurit yang melindungi dan mengelilingi mereka.
"Tidak ada yang tidak mungkin selama kita berusaha," balas William yang membuat semua orang seketika beralih padanya.
"Apakah kau punya strategi, Will? Kami membutuhkan kemampuanmu dalam menyusun strategi," kata Elvina. William yang mendengar itu terdiam sejenak, memikirkan kembali strategi yang sempat muncul di benaknya.
"Aku punya. Tapi aku tidak terlalu yakin apakah ini akan berhasil atau tidak. Karena ini akan tetap membuat pertarungan terjadi."
"Coba kau jelaskan apa strategi yang kau punya."
"Serang intinya?" Semua orang menatap William dengan raut wajah bingung. Ucapan lelaki itu tidak mereka mengerti.
"Aku tahu apa maksudmu. Serang intinya sama artinya dengan menyerang otak dari semua ini, kan? Menyerang tuan dan profesor!" Derek menyambar. Membuat semua orang kembali beralih pandang padanya. William menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Apa? Itu tidak mungkin bisa kita lakukan. Bagaimana kita bisa menyerang mereka sementara ada begitu banyak orang yang melindungi mereka?" tutur Joe.
"Kita bisa menyelinap dan menyerang mereka secara diam-diam. Hanya saja, yang menjadi masalahnya adalah efeknya nanti."
"Kalau kita menyerang otaknya, maka semua pelindung mereka akan menyerang balik, dan mengepung kita. Ini mungkin adalah yang mudah, tapi tetap beresiko. Tapi kalau kita menyerang dengan menghancurkan penghalang mereka lebih dulu, itu justru akan lebih berbahaya karena bisa saja jumlah kita yang sedikit semakin berkurang..." Derek berusaha memikirkan cara lain.
"Itu yang aku maksud..."
Semua orang sekali lagi terdiam dengan kebingungan. Mereka sungguh bingung harus bagaimana. Pasalnya mereka membutuhkan rencana matang yang mampu melindungi jumlah mereka dan mengalahkan tanpa kehilangan satupun anggota mereka. Karena pengurangan anggota akan membuat tim mereka semakin lemah.
Di sisi lain, sementara yang lain sibuk menyusu rencana, beda halnya dengan Dorothy yang kini terdiam dengan kepala tertunduk. Entah kenapa wanita itu merasakan firasat buruk mengenai keputusan yang mereka ambil ini.
"Dorothy..." Luna menepuk pundaknya pelan. Membuat wanita itu tersadar dari lamunannya. Dorothy menoleh ke arah Luna yang kini memandanginya dengan raut wajah cemas. "Kenapa kau diam? Apakah ada masalah?"
"Aku baik-baik saja, Luna."
...***...