
...***...
Rambut panjang yang tergerai, mata kecokelatan yang begitu indah, bibir mungil berwarna kemerahan, kulit putih yang begitu mulus, dan tubuh yang ramping. Lusia tampak begitu cantik, apalagi ketika gadis itu membulatkan matanya menyadari ia baru saja menabrak Rei hingga jatuh diatasnya.
Semua orang tercengang dengan apa yang mereka lihat, sebuah pemandangan tak terduga yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
"K… kak Rei." Lusia terbata melihat siapa lelaki yang baru saja ditabraknya. Wajahnya berubah merah berona kala sadar pria itu adalah Rei. Bergegas Lusia bangun dari posisinya, ia terduduk di dekat Rei.
Rei bangkit, ia menatap Lusia. "Kau baik-baik saja?" tanya Rei. Ia mengulurkan tangannya ke arah Lusia hendak menepuk pundak gadis itu guna memastikan dia baik-baik saja. Tapi begitu tangannya menyentuh pundaknya, Rei merasakan sebuah sengatan listrik yang luar biasa. Rei sedikit meringis, terkejut dengan apa yang terjadi.
A… apa ini? Kenapa aku merasakan sengatan listrik saat menyentuhnya. Apakah jangan-jangan kita pernah saling mengenal di masa lalu? Rei membatin, ia menatap tangannya yang masih merasakan sedikit kebas akibat sentuhannya dengan Lusia.
"Tidak aku sangka kalau kita akan bertemu lagi di sini." Lusia berujar, ia bangun dari tempatnya berbarengan dengan Rei yang kembali fokus menatap gadis itu dari belakang.
Lusia sibuk membersihkan pakaiannya yang kotor akibat duduk di lantai.
"Jujur saja aku tidak tahu kalau kak Rei juga sekolah di sini, aku harap kakak tidak salah paham dan mengira aku mengikuti kak Rei sekolah di sini. Aku masuk sekolah ini karena keluargaku kenal dengan pemiliknya," ucap Lusia dengan nada ketus. Sejak tadi, gadis itu tak mau bertatapan langsung dengan Rei yang kini menatapnya bingung.
Rei tidak mengerti dengan apa yang dimaksud gadis itu, yang pasti sepertinya mereka benar-benar pernah kenal satu sama lain di masa lalu.
"Apa maksudmu dengan salah mengira?" Rei tidak mengerti maksud dari ucapannya. Belum sempat Rei mendapatkan jawabannya, teriakan Isyana lebih dulu menyita perhatiannya.
Rei menoleh ke arah datangnya suara dan mendapati Isyana yang kini menatapnya dengan penuh kesal karena dirinya yang malah mengobrol dengan orang lain dan tidak mengikut ibunya.
"Kak Rei…" Gloria membulatkan matanya saat melihat Rei melintas dari arah yang berlawanan dengannya.
Rei berlalu, menghilang diantara kerumunan orang-orang yang memenuhi koridor.
Gloria menghampiri Lusia. Ia masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. "Lusia, aku tidak sedang bermimpi, 'kan? Itu benar-benar kak Rei, 'kan? Kakak kelas kita waktu SMP?" Gloria mengguncang lengan sahabatnya.
"Iya, itu memang dia," ketusnya. Lusia tak ingin menatap Rei yang terus menjauh. Ia kini memiliki untuk menyibukkan diri membersihkan roknya yang masih kotor.
"Wah… kak Rei semakin tampan, ya? Tak heran dulu kau sampai suka padanya." Gloria terkekeh mengenang masa lalu.
"Jangan membahas kejadian itu lagi!" Lusia menegaskan, air mukanya berubah kesal.
"Kenapa? Apakah kau masih kecewa karena kak Rei tak kunjung menembakmu? Sudah aku bilang, seharusnya kau ambil langkah lebih dulu!"
"Diam!"
...***...