
...***...
Rei mengerjap hingga iris matanya kembali berubah. Ia terkulai di tanah dengan posisi energi yang terkuras.
Energiku terkuras habis, batin Rei yang masih berusaha untuk mempertahankan energinya.
Berada dalam kubah perisai yang di buat Andrich benar-benar menguras energinya.
Andrich beralih fokus dari api yang membara dihadapannya.
Kelihatannya dia semakin kekurangan energi, batin Andrich sambil menyeringai menatap Rei yang tampak tak berdaya.
Aku harus memanfaatkan momen ini. Andrich mengangkat sebelah tangannya, mengarahkan telapak tangannya ke arah Rei yang terkulai di tanah.
Andrich menyerap energi Rei secara perlahan-lahan.
"Arghh…" Rei berusaha mempertahankan energinya. Tapi, ia tidak berdaya sama sekali.
"Energi yang kau miliki memang yang terbaik, Rei…" Andrich menghisap lebih banyak energi.
Rei semakin lemas, bersamaan dengan itu tubuhnya terus kehabisan tenaga. Ia berusaha memberontak, namun usahanya gagal karena apapun yang ia lakukan tidak akan berguna untuk menghentikan Andrich menghisap energinya.
Dia menguras energiku. Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak boleh berakhir di tangannya. Aku harus bisa membawa Lusia lagi. Aku harus bisa membawanya lagi! Rei mulai merasakan kesadarannya menipis secara perlahan-lahan.
"Argh…" Rei terpejam.
...*...
Brukk!
William terhempas ke tanah bersemen. Beberapa bagian tubuhnya terluka akibat pertarungannya dengan Joe yang tak memberikannya ampun sama sekali.
William meringis sambil memegangi tengkuknya dimana Joe baru saja menusuknya dengan jarum suntik berisi serum bius. Hanya sebagian yang berhasil masuk ke dalam tubuhnya, karena William lebih dulu bergerak melawan.
"Menyerahlah. Karena cepat atau lambat, kau akan tetap berakhir di tanganku! Kau akan tetap ikut denganku." Joe melangkah menghampirinya.
"Bermimpilah Joe, bermimpi!" William mendelik ke arahnya.
Joe mengeluarkan seringainya.
"Ternyata kau sama angkuhnya dengan kakakmu. Kita lihat saja, siapa yang akan menang." Joe mengangkat tangannya. Percikan listrik muncul menyelimuti kepalan tangannya. Semakin besar hingga membuat William bisa dengan mudah melihat seberapa besarnya energi yang Joe pusatkan pada kedua tangannya.
Energiku terus menipis. Aku tidak akan bisa menang melawannya. Apalagi serum bius yang Joe suntikkan padaku sudah mulai bereaksi. William membatin.
Rei… kau dimana? Tidak bisakah kau membantuku? Apakah kau bisa mendengarku? Aku butuh bantuanmu… William berharap Rei akan datang untuk membantunya seperti yang sudah-sudah. Tapi setelah pertengkaran luar biasa, Rei tak kunjung menampakkan wujudnya.
Biasanya… di saat seperti ini, kau selalu datang, ujarnya dalam hati.
Bzzttt!
Joe menghempaskan tangan hingga sambaran listrik mengarah ke arahnya.
William berguling ke arah lain untuk menghindari serangan Joe. Tapi pergerakannya yang mendadak lambat berhasil membuatnya terjatuh.
"Arghh…" William mengerang kesakitan. Ia berusaha untuk bangkit dan melarikan diri dari Joe.
Energinya yang terus berkurang membuat William benar-benar kesulitan menggunakan kekuatannya.
"Sudah aku bilang, setiap usaha yang kau lakukan itu sia-sia. Karena kau tidak akan bisa melarikan diri dariku lagi." Joe mengeluarkan jarum suntik lain dengan isi cairan yang sama.
Berisi serum bius khusus yang di buat oleh profesor. Di ciptakan untuk melumpuhkan setiap evolver yang berusaha melawan ketika di perintah.
Joe membuka penutup pada jarumnya dan melemparkannya ke sembarang arah.
Ia melangkah semakin dekat ke arah William yang tersungkur di tanah bersemen.
...***...