
Jean bergegas melangkah pergi dari sana. Berlari menuju ruang rias pengantin tempat dimana Lucy sedang bersiap. Dia harus memastikan sahabatnya itu baik-baik saja.
"Ini sangat berbahaya kalau dia sampai berkeliaran di sekitar acara pestanya. Kita berpencar dan cari dia. Aku akan coba menghubungi Ethan agar dia bisa membantu!" Daniel melangkah pergi meninggalkan Amanda dan Aland yang tak lama kemudian ikut beranjak. Mereka semua bergegas mengecek seluruh area pesta, mencari sosok yang mereka maksud itu berada.
Di sisi lain, pria Asia yang tadi bertemu dengan Rei di lift kini tengah terdiam seraya memandangi kue pengantin yang ukurannya super tinggi dan besar. Tak lama lelaki itu melirik ke arah belakang, dan melihat dengan ekor matanya, beberapa orang mulai bergerak menyebar ke seluruh area pesta. Fokusnya kembali beralih. Dia bergerak menggores kue dihadapannya hingga membuat cream menempel pada jarinya. Pria itu kemudian beranjak dari sana dengan langkah tenang, menjilati jarinya yang dipenuhi cream dari kue tadi dengan sebelah tangan mulai sibuk merogoh kantong jasnya.
Lelaki itu mengeluarkan kacamata hitam yang kemudian langsung dia kenakan sambil terus berjalan meninggalkan tempat tersebut.
...*...
"Di sana!" Nico berseru pada si pengawas. Membuat lelaki itu spontan menekan tombol pause pada monitor yang menampilkan rekaman CCTV di gedung tersebut. Dari beberapa kamera yang tersedia di dalam sana, Nico bisa melihat adegan dimana dia pertama kali berpapasan dengannya. "Perbesar yang sebelah sini!"
Nico menunjuk salah satu sudut kamera yang mengambil arah dari lokasi lift berada, dan setelah si pengawas melakukan zoom pada gambar yang di pause, Nico bisa melihat wajah lelaki itu dengan cukup jelas. Nico membelalakkan matanya begitu sadar kalau ternyata dugaannya benar.
Sudah aku duga, itu memang dia! Tanpa pikir panjang, Nico bergegas melangkah keluar dari dalam ruang pengawas. Dia segera menghubungi Daniel dan memberikan kabar bahwa lelaki yang dia maksud memang ada di sana. Dengan tergesa-gesa, Nico berusaha menghampiri lift. Dia harus segera pergi ke tempat dimana Lucy berada saat ini. Jujur Nico cemas padanya karena Lucy sama sekali tidak tahu menahu mengenai ini. Tadinya dia sengaja merahasiakan ini dari Lucy agar dia bisa fokus pada pekerjaannya, namun gawat kalau sampai wanita itu berada dalam bahaya seperti saat ini. Karena kejadian beberapa tahun silam bisa saja kembali terjadi. Kejadian yang membuat pernikahan wanita itu batal dan juga merupakan menjadi titik awal kehancuran hidupnya. Dimanakah setelah kegagalannya dalam menikah, dia kehilangan orang-orang yang dicintainya. Kehilangan keluarga yang berharga, dan sahabat yang berarti.
Nico sudah cukup dibuat menyesal karena tidak bisa melindungi Lucy dan mencegah kemalangan itu terjadi padanya. Dia juga sudah lebih daripada menyesal harus kehilangan dua orang anak sahabatnya yang dititipkan padanya. Dan Nico tidak ingin merasakan kehilangan lagi. Terlebih Lucy memiliki impact besar dalam sindikatnya. Dia juga memiliki peran besar bagi teman-temannya, dan jika wanita itu terluka atau kenapa-kenapa, maka bisa dipastikan sindikatnya runtuh seperti saat Lucy meninggalkan sindikatnya dulu.
...*...
"Aku sangat menyukai ini. Kita semua tampak sempurna di foto ini." Leon tersenyum memandangi hasil foto yang baru saja mereka tangkap. Di dalam foto itu, menunjukkan gambar dirinya yang berfoto bersama Lucy, Elvina, Rei, dan William. Sebenarnya Leon yang pertama kali memiliki ide untuk mengambil foto terakhir sebagai kenang-kenangan sebelum wanita itu menikah, karena bagaimanapun juga mereka belum pernah memiliki kenangan apapun semenjak Lucy dan Leon pergi dari Prancis, serta berpisah sangat lama.
"Kalau begitu simpan yang ini dan tolong cetak dengan ukuran besar untuk kami."
Jean mendadak membuka pintu tanpa mengetuknya terlebih dulu. Tiba di dalam, dia terdiam dengan napas terengah-engah sambil memandangi Lucy dengan wajah cemas. "Jean? Ada apa?"
Lucy yang menyadari kedatangan sahabatnya dengan tingkah aneh itu segera menghampirinya. Tapi alih-alih menjawab, Jean justru langsung memeluknya sambil menangis tanpa suara. Hal itu membuat Lucy semakin kebingungan. Dia mencoba menanyakan apa yang terjadi, tapi Jean justru semakin mengeratkan pelukannya. Wanita itu lantas berbisik di telinganya dengan suara lirih. "Syukurlah kau baik-baik saja..."
Lucy hanya bisa mengerutkan kening. Begitu dia hendak bertanya, secara tiba-tiba Nico mendadak muncul dan mengejutkan mereka semua. "Lou!"
"Sir Nic..." Lucy menatap pria yang baru saja datang itu. Jean melerai pelukan mereka setelah mengusap air matanya. Dia menoleh ke belakang dimana Nico berada.
"Kita harus bicara empat mata. Ini penting," ujarnya dengan nada tegas. Lucy yang mendengar itu segera meminta Leon dan yang lainnya menunggu di acara pesta. Mengingat acaranya sebentar lagi dimulai. Begitu hanya tersisa dirinya dan Nico di dalam sana. Lucy segera menutup pintu rapat-rapat.
"Ada apa, sir? Hal penting apa yang ingin anda bahas denganku?" tanya Lucy. Menatap Nico dengan wajah serius.
Nico menghela napas dalam-dalam sebelum akhirnya mulai bersuara. "Kau ingat foto lelaki yang sempat kau lihat di file yang aku bawa beberapa waktu lalu?"
Untuk sesaat Lucy terdiam, berusaha mengingat foto yang dimaksudnya. Tak lama Lucy menjawab bahwa dia ingat dengan foto itu. Memang benar Lucy sempat tidak sengaja melihat sebuah foto berisi target untuk misi salah satu tim di sindikat mereka. Tapi saat Lucy menanyakan siapa sosok lelaki itu, Nico justru menutupi segalanya seolah ada sesuatu yang sedang dia sembunyikan darinya.
"Sebenarnya aku tidak ingin mengatakan hal ini padamu karena aku tidak ingin merusak acara bahagiamu. Aku juga bahkan belum memberikan misi ini pada Amanda dan Aland. Aku hanya baru menunjukkan fotonya pada mereka. Tapi setelah aku pikir-pikir, kau juga berhak tahu karena ini menyangkut hidupmu."
"Apa maksud anda kalau dia ada kaitannya dengan hidupku?" Lucy menatapnya penasaran. Nico hanya terdiam untuk sesaat, lelaki itu bingung harus menjelaskan bagaimana agar Lucy tidak panik. "Apakah jangan-jangan... dia masih ada kaitannya dengan orang-orangnya yang telah membunuh orang-orang yang aku sayangi?"
Nico menganggukkan kepalanya pelan. Begitu mendengar jawabannya, Lucy hanya bisa mengepalkan kedua tangannya dengan emosi yang mulai memuncak hingga ke ubun-ubun kepalanya. "Dia adalah salah satu dari empat orang yang menjadi target kita. Dan berita buruknya... dia sempat menyelinap masuk kemari..."
...***...
...- BERLANJUT KE SEASON SELANJUTNYA -...