
...***...
Montreal, Kanada.
2518
Setelah perjalanan panjang, Yeon-woo dan keluarganya akhirnya tiba di Montreal, Kanada. Tempat yang mana merupakan tanah kelahiran ayahnya sekaligus tempat yang selanjutnya akan menjadi tempat tinggalnya.
Perjalanan yang jauh membuat Yeon-woo kecil tertidur pulas. Tapi beruntung dengan sigapnya Chris membawa putranya itu ke dalam kamar untuk menidurkannya.
Klap!
Pintu ditutupnya perlahan setelah menidurkannya putranya itu di dalam sana. Ia melangkah turun menuju lantai satu untuk melanjutkan kegiatannya. Membantu istrinya Park Yuna untuk membereskan barang-barang yang mereka bawa.
"Bagaimana? Yeon-woo sudah tidur?"
"Iya. Tapi, kelihatannya dia sedih karena tiba-tiba harus pindah."
"Yeon-woo memang sempat berkata kalau dia sedih. Tapi dia bilang tidak apa-apa karena walaupun terpisah jarak, bukan berarti dia dan teman-temannya putus hubungan. Aku benar-benar tidak menyangka kalau, putra kita akan sangat bijaksana di usianya yang sangat kecil itu."
"Kita beruntung karena dianugerahi anak sepertinya. Dia adalah karunia terindah yang pernah tuhan berikan."
"Iya, kau benar…" Yuna tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Ia setuju dengan ucapan suaminya. Bagaimanapun, Yeon-woo memanglah anugerah terindah yang pernah mereka dapatkan.
Bagaimana tidak? Yuna dan Chris sejak dulu harus menghadapi berbagai rintangan dalam hubungan mereka. Mulai dari jarak yang terpisah jauh antara Kanada dan Korea, selain itu saat hendak menikah pun mereka sempat tidak diberikan restu oleh kedua orang tua mereka. Tapi walaupun begitu, mereka tetap memutuskan untuk menikah, dan hal itu membuat mereka seolah terasingkan dari keluarga mereka sendiri.
Setelahnya, mereka berusaha menyatukan orang tua mereka agar bisa memiliki hubungan yang akur dan mau merelakan dan memberikan restu atas hubungan mereka.
Mereka berjuang untuk memiliki anak selama tiga tahun lamanya untuk bisa menyatukan mereka, dan setelah berulang kali gagal. Akhirnya mereka berhasil menyatukan keluarga mereka setelah Yuna akhirnya melahirkan Yeon-woo di tahun ketiga pernikahannya.
...*...
Louis terdiam. Lelaki itu berjongkok di lantai sembari menatap lekat anak laki-laki yang kini tertidur pulas menghadap ke arahnya. Ia begitu tenang, dan begitu menikmati mimpi indah yang sedang dialaminya.
Tidak ada yang tahu bahwa sejak tadi Louis bisa mendengarkan pembicaraan antara Yuna dan Chris. Selain itu Louis juga tadi sempat memutuskan untuk mencari tahu latar belakang Yuna dan Chris serta apa yang terjadi sebelum Yeon-woo lahir.
"Tidak aku sangka, ternyata kau benar-benar tuan… Lelaki yang aku cari selama ini," gumam Louis sambil menatapnya. Tanpa sadar kedua irisnya mulai berkaca-kaca. Ia nyaris menangis melihat Yeon-woo. Terlebih ketika dia tahu fakta mengenai apa yang terjadi dalam kehidupannya.
Yuna dan Chris menganggap putra mereka sebagai anugerah paling indah dan paling berharga dalam hidupnya. Mendengar itu saja sudah cukup untuk membuat Louis terharu.
"Di kehidupan ini, tuan ternyata memiliki kehidupan yang lebih baik…"
"Aku benar-benar lega. Tuan sangat beruntung terlahir kembali dengan orang tua yang begitu baik, dan sangat menyayangi tuan."
"Selain itu, mereka sangat-sangat perhatian."
...***...