Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 532 - Kehilangan



...***...


Dorothy membalik arah jalannya. Ia kembali ke tempat dimana desanya berada sebelum hancur melebur bersama pasir pantai.


Tap!


Ia menghentikan langkahnya begitu tiba di lahan yang menjadi desanya. Tempat itu seketika berubah hancur.


Hatinya mencelos kala netranya menangkap beberapa mayat yang terbaring di atas pasir. Mayat-mayat itu tidak lain dan tidak bukan adalah warganya yang gugur dalam pertikaian beberapa saat lalu.


Dengan mata berkaca-kaca menahan tangis, Dorothy perlahan menghampiri mereka dan mengecek satu persatu jenazah yang terkulai tak berdaya itu.


Matanya mengedar. Menatap dari sisi yang satu ke sisi yang lain. Tidak ada satupun di antara mayat-mayat itu yang mati tanpa luka.


Sebagian besar terluka, mengucurkan darah segar dari bagian tubuh mereka hingga bau amis tercium begitu kentara di antara udara.


Dorothy tak kuasa menahan air katanya. Tangisnya pecah. Bagaimana tidak? Dirinya sudah menganggap semua warganya seperti anak-anaknya sendiri.


Dorothy terus melangkah dengan lemas hingga akhirnya terjatuh di atas pasir jauh dari beberapa mayat yang dilihatnya.


Di sana, ia terisak tanpa memiliki keberanian untuk menatap ke arah mayat-mayat yang membuat hatinya terkoyak menahan sakit.


Di tinggalkan oleh orang yang dia sayangi. Walaupun sudah pernah dia alami, namun tetap saja selalu membuatnya terluka.


Ini ketiga kali dalam hidupnya, harus berpisah dengan orang-orang yang di anggapnya keluarga.


Hatinya hancur. Entah pada siapa dirinya harus mengadu.


Di pulau yang amat terpencil ini, dirinya hanya seorang. Tidak ada siapapun yang dapat dimintain tolong olehnya, atau bahkan hanya sekedar tempat bersandar kala air matanya jatuh melihat warga-warganya tewas.



...*...


Beruntung diantara semua bangunan yang runtuh, dia masih memiliki gudang persenjataannya. Di dalam sana, masih ada setidaknya sedikit ruang untuknya berlindung dari dinginnya udara malam ketika terlelap.


Yang ia butuhkan saat ini adalah mencari ranting dan kayu guna membuat api unggun yang selanjutnya akan ia gunakan untuk membakar ikan hasil tangkapannya.


Beberapa mayat penduduknya yang gugur dalam pertikaian tadi, telah ia kuburkan.


Waktunya bahkan habis untuk menguburkan satu persatu mayat yang tergeletak di sana.


Dorothy menyeka keringat yang membasahi keningnya. Tubuhnya benar-benar tampak kacau, beberapa bagian wajahnya kotor dan tak sedikit pula bagian tubuhnya dihiasi bercak darah dari beberapa orang mayat yang dikuburkannya.


"Mungkin ini sudah cukup," gumam Dorothy yang sudah cukup banyak mengambil ranting di hutan.


"Lebih baik aku kembali sebelum lebih gelap." Dorothy berbalik dan hendak kembali ke tempat dimana desanya berada.


Langkahnya yang sudah lemas tak berdaya, dan energinya yang terkuras, membuat langkahnya tak seimbang sampai akhirnya tersungkur jatuh di tanah.


Brukk!


Semua kayu yang dikumpulkannya sampai berserakan di tanah. Dorothy meringis kesakitan. Ia ingin bangkit, tapi tubuhnya terasa begitu tidak bertenaga.


Di saat yang bersamaan, Derek yang sedang berkunjung dan berusaha mencari Joe turun hingga tiba di hutan.


"Joe!" teriaknya yang terus menyisir hutan.


Ia menghentikan langkahnya saat mendengar suara sesuatu yang berbenturan keras dengan tanah.


"Joe?" katanya. Ia berlari menghampiri asal suaranya.


Begitu tiba di sana, Derek melihat Dorothy yang sudah berhasil bangun tertatih.


...***...