Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 252 - Hari Minggu



...***...


Linda:


Bukankah menyenangkan kalau bisa bisa melakukan double date? Kau dengan kekasihmu, aku dengan Roby.


Elvina:


Mungkin nanti. Aku masih belum kepikiran sampai sana.


Elvina mematikan layar ponselnya lalu memasukkan benda itu ke dalam kantong jasnya. Ia melanjutkan perjalanannya hingga tiba di depan pintu lift.


Tiba di sana, Elvina diam menunggu pintu terbuka setelah ia menekan tombol yang ada.


Bunyi 'ting' di dengarnya, bersamaan dengan itu pintu lift terbuka dan menampakkan seorang pria bertubuh tegap yang kini berdiri seorang di dalam sana.


Elvina baru saja akan melangkah masuk, sebelum ia mendongak dan mendapati Leon di dalam sana.


Pandangan mata mereka bertemu satu sama lain. Begitu sadar siapa yang ada di dalam lift, Elvina bergegas berbalik guna menghindar dari Leon.


Leon yang menyadari Elvina lagi-lagi menghindar darinya, bergegas keluar dari lift. Leon berlari mengejar Elvina.


"Elvina!" Leon berusaha menghentikan langkah wanita itu.


Elvina terus melangkah. Berjalan seolah tak bisa mendengarkan panggilannya.


Aish! Kenapa kau mengikutiku? Jangan ikuti aku. Aku mohon. Elvina mempercepat lajunya hingga tiba di depan lift lain.


Ia menekan tombol yang ada. Namun begitu pintu terbuka dan melihat padatnya orang di dalam sana, Elvina segera memutar arah.


"Elvina, tunggu!" Leon masih mengejarnya.


Astaga, kenapa kau malah mengejarku! Elvina makin cemas. Ia mulai sedikit berlari guna menghindar dari Leon.


Elvina berjalan menuju tangga darurat. Ia melangkah turun dengan tergesa-gesa.


Leon tak menyerah begitu saja dan terus berlari mengejar Elvina. Ia sekarang juga berjalan menuruni tangga yang dilewati Elvina.



Elvina spontan berhenti saat Leon akhirnya berhasil menangkapnya.


"Aku mohon berhenti. Jangan lari lagi dariku. Jangan menghindar lagi," tutur Leon.


Elvina terdiam, kini Leon memutar tubuh wanita itu hingga beralih menghadap ke arahnya.


"Jangan terus melarikan diri."


"Maaf…" Elvina bergumam dengan kepala tertunduk. Leon diam memandangi wajahnya, menunggu kalimat selanjutnya yang akan terlontar dari mulutnya. "Saya belum bisa menjawab. Karena saya benar-benar bingung harus menjawab apa."


"Kau tidak akan tahu jawabannya kalau kau terus menghindar dariku." Leon meraih kedua tangan Elvina dan menggenggamnya. Elvina mendongak, beradu pandang dengannya.


"Berikan aku kesempatan untuk mengenalmu lebih dekat. Dengan begitu, kau bisa menemukan jawabannya," ujarnya.


"Tapi…"


"Jangan terus lari. Karena semakin jauh kau melarikan diri dariku, semakin bulat pula tekadku untuk mendapatkanmu."


Elvina diam merapatkan giginya. Jantungnya benar-benar terasa akan melompat keluar.


"Hari Minggu. Ayo kita saling mengenal lebih jauh. Kita jalan berdua hari Minggu, bagaimana?" Leon menatapnya penuh harap, tapi Elvina benar-benar tak bisa berkata apa-apa.


"Aku anggap diammu sebagai jawaban 'ya'. Kalau begitu, hari Minggu aku akan menjemputmu di rumah, dan mulai hari itu… ayo kita saling mengenal lebih jauh agar kau bisa menemukan jawabannya."


Elvina membuka mulutnya, baru saja ingin menjawab. Mendadak Leon melepaskan genggamannya dan pamit.


"Kalau begitu sampai jumpa." Leon berbalik meninggalkan Elvina seorang diri di dalam sana.


Elvina membatu ditempatnya. Ia menghela napas panjang berusaha menetralkan degup jantung dan rasa gugup yang sejak tadi menyelimuti dirinya.


"Dia memang selalu seenaknya sendiri. Padahal aku belum menjawab iya," lirihnya dengan kepala tertunduk.


...***...