Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 757 - Sadarlah, Rei!



Rei menarik tengkuk wanita itu. Mencium bibirnya, berharap dengan begitu Lusia bisa mengingat dirinya. Lusia membelalakkan matanya. Wanita itu mendorong tubuh Rei dengan cepat dan menghajarnya dengan sekuat tenaga.


"Brengsek! Beraninya kau melakukan itu padaku..." Lusia memegangi mulutnya. Mengusap bibirnya yang bercampur darah dari mulut Rei.



Rei mengambil kesempatan itu. Menarik tubuh Lusia dan menempelkan kening mereka dengan menyempilkan kartu ingatan di antara mereka. Bersamaan dengan itu. Lusia langsung melihat berbagai adegan dalam kepalanya. Semua adegan itu adalah ingatannya yang tertidur. Ingatan tentang Rei dan dirinya.


Lusia membelalakkan mata, mendorong tubuh Rei dan melompat bangun dengan wajah terkejut. "A-apa itu... Apa yang baru saja aku lihat itu?"


Lusia memegangi kepalanya. Dia tidak mengerti kenapa bisa muncul berbagai ingatan tentang dirinya dan Rei.


Rei berusaha untuk bangkit. Dia terduduk sambil menahan rasa sakit pada tubuhnya. "Itu adalah ingatanmu yang sesungguhnya Lusia..."


"Ti-tidak mungkin... ARGHH!!!" Lusia memegangi kepalanya yang tiba-tiba saja terasa sakit. Tak lama berbagai adegan itu kembali muncul di kepalanya hingga membuatnya terasa begitu sakit.


"Aku mohon... Ingatlah padaku Lusia... Jangan biarkan mereka menghancurkan segalanya tentang kita..."


"Kepalaku sakit sekali... ARGHH!!!" Lusia jatuh terduduk di tanah. Dia terus memegangi kepalanya yang terasa sangat sakit. Rei hanya bisa terdiam memandangi Lusia. Perlahan Rei melihat rambut wanita itu kembali ke warna semula, dan penampilannya juga perlahan terlihat seperti Lusia yang dikenalnya. Lusia menjerit kesakitan sebelum akhirnya dia benar-benar kembali seperti semula.


"Rei..." Lusia bergumam pelan. Air matanya menetes dan wanita itu mulai ingat segalanya tentang Rei dan dirinya. Lusia mendongakkan kepalanya dan mendapati Rei yang tengah berbaring dengan keadaan setengah duduk. Penampilannya begitu kacau, wajahnya penuh luka dan darah, dan dia terlihat sedang berusaha menahan sakitnya. Air mata wanita itu semakin merosot jatuh.


Lusia bangkit dan berlari ke arah Rei yang berada di sana. "Rei..."


"A-apa yang sudah aku lakukan... Aku sudah melukaimu... Aku minta maaf..." Lusia menangis menatap Rei. Dia sungguh menyesal sudah melukai lelaki itu.


"Kau tidak perlu meminta maaf, aku tahu itu bukan dirimu..." Rei beradu tatap dengan Lusia. Ia meringis menahan sakit yang masih bisa dirasakan tubuhnya dengan begitu jelas. Hal itu membuat Lusia panik. Lelaki itu semakin merasa bersalah atas perbuatannya.


"Bertahanlah. Aku akan mencari cara untuk menyembuhkanmu..."


Grep!


Rei tanpa aba-aba menarik tubuhnya. Memeluk Lusia erat. "Aku hanya membutuhkanmu... Terima kasih karena sudah mengingatku lagi, aku sungguh senang..."


Lusia membalas pelukannya sambil terisak. Tapi tak lama. Dia merasakan Rei berhenti bergerak. Hal itu membuat Lusia panik. Dia refleks melepaskan pelukan mereka dan menatap Rei dengan sangat panik. "Rei..."


Lusia menepuk-nepuk wajahnya pelan. Tapi Rei sama sekali tidak merespon. Lelaki itu sudah tidak sadarkan diri.


"Tidak, Rei! Rei sadarlah... Rei!!! ARGHH!!!" Lusia mengguncang tubuhnya berulang kali. Tapi apa yang dilakukannya sama sekali tak membuatnya tersadar. Wanita itu mengepalkan kedua tangannya, menjerit sekencang-kencangnya.


Lusia kesal pada dirinya sendiri karena sudah terpedaya oleh kata-kata Martin.


...***...