
...***...
Elvina mengangkat kedua tangannya, memfokuskan seluruh energinya hingga medan gaya dalam dirinya kembali muncul. Ia menggunakan kekuatannya untuk menghancurkan robot-robot Moscout yang berterbangan di udara tadi.
Semua robot-robot Moscout yang ada seketika hancur menjadi abu. Selesai dengan itu, Elvina segera menarik tangan William dan pergi dari sana.
Tiba di luar ruang isolasi mereka, keduanya berdiri sejenak di lorong. Elvina menoleh ke arah kiri dan kanan. Suara langkah kaki dan sirine tanda bahaya yang di dengarnya berasal dari arah dimana lorong ruangan isolasinya berada.
"Lewat sini!" Elvina berlari menarik tangan William menuju jalanan dimana ruangan isolasi lain berjejer.
Elvina terus berlari, ia bahkan tidak sadar kalau sejak tadi langkah William terasa begitu ringan bagaikan udara.
"Kita akan kemana?" tanya William yang terus berlari.
"Kita keluar. Aku tahu dimana kita bisa menemukan jalan agar bisa keluar."
"K… kau tahu?" Ulang William. Elvina mengangguk sebagai jawaban. Ia terus berlari mengikuti jalan yang tadi siang Elvina lewati bersama dengan profesor.
Tiba di lorong bercabang, Elvina kembali melihat segerombolan robot android yang bergerak menuju arah mereka dengan sirine darurat yang sama.
Elvina dan William menghentikan langkah mereka bersamaan. Keduanya terkepung diantara robot-robot android yang bergerak dari segala arah.
"Tetap di belakangku." Elvina melindungi tubuh William. Tangannya terangkat dan mulai menggunakan kekuatannya untuk menyerang semua robot android yang ada dengan kekuatannya.
Beberapa robot android tidak tinggal diam, mereka mulai melancarkan serangan, menembak Elvina dan William dengan laser untuk melumpuhkan mereka. Beruntung Elvina memiliki kekuatan medan gaya yang mampu melindungi diri mereka.
"Will, ayo lari lagi," ujarnya yang dijawab anggukan kepala oleh William. Lelaki yang menjadi adiknya itu, mulai bergerak. Berlari dengan sekuat tenaganya. Namun di luar dugaan, Elvina dibuat terkejut dengan apa yang terjadi.
William, bergerak begitu cepat. Cepatnya hampir seperti kilat yang menyambar. Tidak butuh waktu lama, mereka berhasil melarikan diri dari kejaran para robot android di belakang mereka.
Apa ini? Apakah jangan-jangan… ini adalah kekuatan Will? inner-nya.
"Will, terus berlari dan jangan berhenti. Ikuti setiap arahan dariku."
"Baiklah," sahut William. Ia mulai berlari dengan mengikuti setiap arahan dari Elvina. Mereka berbelok dari jalan yang satu ke jalan yang lain, bertemu dengan segerombolan robot android yang masih berusaha mengejar mereka, mereka juga bertemu dengan evolver penjaga yang berusaha untuk menangkap mereka berdua. Tapi, mereka lagi-lagi berhasil lari dari kejaran pada evolver itu.
Elvina meminta William berhenti sebentar di sebuah jalan dimana terdapat peta yang dilihatnya.
Elvina menghilangkan kekuatannya, ia menghampiri peta yang ada di sana dan menatapnya lekat.
"Melihat dari peta ini, dimana kita berada?" tanya William.
"Di sini." Elvina menunjuk ke arah jalan dimana titik lokasi mereka berada. "Aku pernah kemari tadi siang. Jadi aku masih ingat betul dimana lokasinya," jelas Elvina.
"Itu artinya, kita hanya perlu terus berjalan kemari melewati beberapa persimpangan agar bisa tiba di pintu keluar?" William menyimpulkan.
"Iya. Ternyata dugaanku benar, pintunya tak jauh dari lab profesor," gumam Elvina.
...***...