Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 120 - Perpisahan



...***...


Ada tiga foto berisi gambar dirinya, dua diantaranya diambil ketika Rei di taman kanak-kanak, sedangkan satu lagi adalah gambar dirinya bersama dengan seluruh anggota keluarganya lengkap.


Rei terdiam memandang foto yang dicetak super besar itu. Di dalam foto itu, Rei benar-benar melihat dirinya. Berdiri bersama dengan beberapa orang yang tak lain merupakan keluarganya.


Rei tak menyangka kalau ia benar-benar ada di antara mereka. Selama ini, setelah setahun lamanya mengembara, akhirnya Rei tahu kalau ia memiliki keluarga.


Setelah satu tahun lamanya juga dirinya hidup dalam tanda tanya tentang latar belakangnya, akhirnya ia menemukan jawabannya.


Rei memiliki keluarga, sama seperti orang-orang lain yang pernah ditemuinya.


Namun setelah memandang gambar itu, tidak ada reaksi sama sekali darinya. Walaupun ia terus menatap gambarnya, Rei sama sekali tak dapat mengingat apa-apa meski hanya sedikit saja. Semuanya tampak asing, walau dirinya berada di dalam foto itu, tapi Rei merasa seakan-akan tidak pernah ada di sana.


Ternyata aku memiliki keluarga… tapi kenapa aku merasa seakan-akan asing dengan semua keadaan ini? Apa yang sebenarnya terjadi denganku? Kenapa aku seperti ini? ucap Rei dalam hati. Berbagai pertanyaan terus bermunculan dibenaknya.


Perhatian Rei dan William seketika beralih pada Elvina yang kembali setelah berbicara dengan Isyana.



"Baiklah, kita harus pergi," tutur Elvina begitu tiba di sana. William dan Rei bangun bersamaan dari tempat duduknya.


"Nah, Rei… karena mulai saat ini kau akan tinggal di sini, kita mungkin tidak akan sering bertemu dan menghabiskan waktu. Aku harap kau bisa membiasakan diri dengan Tante Isyana dan keluargamu yang lainnya. Kita akan bertemu lagi di weekend ini, rencananya aku ingin mengajakmu pergi."


"Okay," ucap Rei.


"Kalau begitu sampai jumpa," pamit Elvina.


Rei mengantarkan Elvina dan William hingga ke depan rumahnya. William dan Elvina melambaikan tangannya ke arah Rei.


Rei membalas lambaian tangan mereka. Berpisah seperti ini, membuat dadanya terasa sesak. Walaupun ia baru kembali dan bersama dengan mereka selama beberapa hari, namun sudah banyak yang mereka lewati yang sejauh ini menjadi awal kisah mereka yang baru.


Elvina dan William menghilang dibalik pintu taksi yang mereka hentikan.


Sepeninggalan Elvina dan William, fokus Rei beralih pada Isyana yang berdiri di sampingnya.


"Ayo masuk, sayang," ucap Isyana. Rei mengangguk pelan dan berjalan mengekor di belakang Isyana yang masuk ke dalam rumah.


"Apakah kau sudah makan? Kalau kau belum makan, mama bisa minta bi Ella untuk menyiapkan sarapan untukmu."


"Tidak perlu, aku sudah makan."


"Oh, syukurlah. Kalau begitu, biar mama antarkan kau ke kamarmu. Ayo." Isyana melangkah menuju lantai dua.


Rei berjalan dibelakangnya. Sejak tadi, ia tidak berhenti mendongak menatap sekeliling ruangan yang dilewatinya.


Rei menatap setiap sudut ruangan yang ia lewati, mulai dari ruang tamu sampai ruang keluarga yang berdekatan dengan ruang makan dan dapur.


Rei melewati satu ruangan di dekat tangga menuju lantai dua. Ia menghentikan langkahnya sejenak saat melintas di ruangan tersebut. Ia merasakan sesuatu yang berbeda. Entah kenapa ada hawa dingin yang seketika menyeruak masuk ke dalam dirinya, selain itu ada aura aneh yang dirasakan Rei.


"Rei?" Isyana membuyarkan lamunannya. Rei mendongak spontan menatap ibunya.


...***...