
...***...
"Apa? Kami akan segera ke sana!" Ron bangun dari duduknya saat telecosysnya menerima panggilan dari salah satu rekannya yang bertugas di Oslo-Norwegia.
Bergegas lelaki itu berjalan menuju ruangan tuannya untuk memberikan informasi yang baru saja ia dapatkan.
Tiba di dalam ruangan tuannya, ia segera membungkuk memberikan hormat.
"Ada apa? Kau mendapatkan berita terbaru mengenai Derek?" tanya lelaki yang menjadi tuannya itu.
"Benar tuan. Aku baru saja mendapatkan panggilan dari salah satu rekanku di Oslo. Mereka bilang kalau mereka menemukan Derek di Oslo."
"Apa? Oslo?!" Lelaki itu tersentak kaget dan spontan bangun dari duduknya.
"Betul tuan, mereka menemukan Derek dan wanita itu ada di sana."
"Sial! Kita kalah cepat. Segera kalian siapkan pesawat, kita pergi ke Norwegia sekarang juga!"
"Baik, tuan." Ron membungkuk dan beranjak pergi meninggalkan ruangan tuannya.
Tiba di luar, ia secara tak sengaja bertemu dengan Joe yang sedang melintas di koridor. Lelaki itu menghentikan langkahnya saat secara tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka.
"Kau menguping lagi?" Ron menatapnya tajam.
"Aku hanya tidak sengaja lewat. Tapi… apakah benar, Derek ada di Oslo?"
"Ya. Tapi bukankah kau kakaknya? Kenapa kau tidak tahu dimana adikmu berada? Apa kalian benar-benar saudara? Aku meragukan itu." Ron berdecak sembari menampakkan senyum miringnya. Mengejek Joe dengan kalimatnya.
Detik berikutnya, lelaki itu berlalu meninggalkan Joe tanpa berkata lagi.
Joe terdiam dengan kepala tertunduk, ucapan Ron dapat dibenarkan hatinya.
...*...
Derek menghentikan taksi kosong yang tengah melintas dan segera masuk dengan menarik Pricilla ke dalamnya. Ia segera meminta sang supir memacu kendaraannya.
"Tadi itu hampir saja." Pricilla terengah-engah, begitu juga dengan Derek. Keduanya tersenyum simpul saat akhirnya bisa meloloskan diri dari kejaran para penjaga yang berusaha menangkap mereka.
"Aku benar-benar lega bisa melarikan diri." Derek menghela napas lega.
"Aku juga senang karena kita berhasil melarikan diri dari mereka." Pricilla membalas. Perhatian keduanya segera beralih pada si supir. Derek meminta sang supir untuk mengantarkan mereka menuju bandara agar mereka bisa secepatnya pergi menuju London guna mencari keberadaan Jessy yang sedang menghadiri seminar di sana.
...*...
Jam istirahat. Rei mengunjungi ruang perpustakaan bersama dengan Lusia dan yang lainnya. Mereka hendak mencari buku referensi untuk bahan tugas bahasa Indonesia mereka yang pembelajarannya akan berlangsung setelah jam istirahat.
Gloria menghampiri meja yang tengah di duduki Heru. Di atas meja, sudah ada beberapa buku yang telah mereka kumpulkan sebagai bahan referensi. Mereka hanya tinggal mengecek dan memilihnya saja.
"Bagaimana dengan yang satu ini?" Gloria menunjukkan satu buku pada Heru. Lelaki itu beralih fokus dari buku yang tengah di bacanya.
"Tidak. Sepertinya kurang cocok dengan tema yang diberikan bapak Minggu kemarin." Heru menggeleng pelan.
"Benarkah? Aih, kalau begitu aku harus mencari yang lain." Gloria kembali menyibukkan diri mencari bacaan lain sebagai referensi mereka.
Rei baru saja kembali dari toilet dan baru tiba di meja yang di tempati oleh Gloria dan Heru.
"Dimana Lusia?" tanyanya begitu melihat Lusia tidak ada.
...***...