
...***...
Elvina membulatkan mata. Ruangan itu penuh dengan tabung besar berisi manusia dengan keadaan telanjang tenggelam dalam sebuah cairan berwarna keunguan.
"Aku membawamu kemari, karena suatu saat… kau akan ikut bergabung denganku," ujar profesor padanya.
Elvina mendongak menatap lantai dua. Sejauh yang dapat dilihatnya. Ruangan itu hanya berisi tabung dengan manusia di dalamnya. Dari berbagai ras, dan suku bangsa.
Laki-laki, dan perempuan. Semuanya berada dalam tabung dengan cairan yang sama.
"Aku tahu, kau selalu bercita-cita ingin menjadi seorang dokter, karena dulu, ibumu pernah sakit-sakitan parah. Dan kau bertekad ingin menjadi dokter. Cita-citamu itu akan terwujud di masa mendatang, bahkan kau akan menjadi dokter yang paling berjasa dan paling jenius yang membuat namamu terukir dalam sejarah."
Elvina tidak mengerti kenapa profesor bisa berkata seperti itu padanya. Berbagai pertanyaan bermunculan dalam benaknya, tapi tak ada satupun dari pertanyaan itu, ia lontarkan. Elvina masih memandang ke sekeliling. Semua orang dalam tabung itu dalam keadaan tidak sadarkan diri.
"Jangan terlalu terkejut seperti itu. Karena kau juga pernah berada di dalam sana," ucap profesor seraya menoleh ke arah Elvina.
Elvina melotot mendengarnya, ia menoleh ke arah laki-laki tua yang berdiri disampingnya.
Elvina hanya diam dan mendengarkan. Matanya tak ingin beradu dengan si profesor, ia lebih memilih untuk menunduk menahan amarahnya yang semakin meningkat. Semua yang di ucapkan profesor berhasil membuat kesal, marah, dan emosi dalam dirinya, semua bercampur menjadi satu. Elvina tak menginginkan ini. Ia tidak ingin semua ini terjadi padanya. Yang ia inginkan hanyalah mencari Rei dan membawanya pulang, bukan malah di culik dan dijadikan kelinci percobaan oleh profesor gila sepertinya.
Elvina mengepalkan kedua tangannya. Emosi tak dapat di kontrolnya, tanpa ia sadari percikan listrik mulai bermunculan meliputi kepalan tangannya. Perlahan, medan gaya itu, muncul untuk pertama kalinya.
Transparan dan nyaris tak dapat dilihatnya. Namun, percikan listrik yang menyertainya membuat semua orang dapat melihatnya dengan mata telanjang. Warnanya putih dengan percikan listrik berwarna merah muda yang semu.
Profesor menatap Elvina yang berusaha menahan amarahnya. Kemampuan Elvina membuat seisi ruangan ikut bereaksi. Lampu-lampu yang menerangi tempat itu seketika berkedip berulang kali.
Semua orang di ruangan tersebut menoleh ke sekeliling begitu sadar lampu dan layar komputer mereka terus berkedip seakan-akan terjadi korsleting listrik yang menyebabkan segala benda elektronik di sana jadi tidak stabil.
"Elvina, kendalikan dirimu!" Profesor menepuk pundaknya pelan.
...***...