Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 541 - Mungkin…



...***...


"Kalian yakin ini akan berhasil?" tanya Elvina pada Aland dan Lucy dengan kalimat ragu.


Jujur saja, Elvina takut kalau penyamaran yang mereka gunakan ini tidak berhasil menyembunyikan identitas mereka yang sebenarnya.


Bagaimanapun untuk saat ini, mereka harus menyembunyikan identitas mereka yang sebenarnya dari semua orang.


Tidak ada yang boleh tahu tentang kaum evolver. Karena jika sampai orang-orang berkemampuan khusus seperti mereka terbongkar identitasnya, maka orang-orang tak bersalah akan berada dalam bahaya.


Profesor si tua bangka itu akan melakukan cara apapun untuk tetap menyembunyikan sindikatnya. Termasuk membunuh manusia tak bersalah sekalipun.


"Kau tenang saja. Semuanya akan baik-baik saja." Aland meyakinkan.


"Ya, benar. Tidak akan ada yang terjadi dan tidak akan ada yang mengenali kita sampai kita tiba di sana." Lucy menimpali wanita itu sibuk mengecek laptopnya sedangkan Aland sibuk menyetir mobil mereka menuju bandara.


Mereka sudah memesan tiket pesawat menuju Tarakan, Kalimantan. Sebelumnya, mereka juga sudah membuat identitas palsu untuk Elvina, Rei, dan William. Tentunya dengan bantuan Ethan juga.


Sebelum berangkat, Lucy dan Aland sempat berpamitan pada Leon dan mengatakan kalau mereka mungkin akan cukup lama di Kalimantan untuk mengurus bisnis mereka.


Leon percaya saja karena tampaknya pria itu sedang kalut pasalnya Elvina menghilang bak di telan bumi bahkan tanpa kabar sedikitpun tentangnya.


Lucy cukup menyesal karena harus membohongi sepupunya sendiri. Terlebih ini adalah Leon, dia harus berbohong pada laki-laki yang dulu di lindunginya.



"Eth, kau masih terhubung dengan kami 'kan?"


"Of course, Lou. Aku selalu terhubung dengan kalian."


"Kau masih mengawasi target kita, apakah ada pergerakan lagi?"


"Tidak ada. Sepertinya mereka sedang melakukan sesuatu di sana dan akan cukup memakan waktu."


"Ya aku harap begitu, agar kalian secepatnya bertemu dengan Am dan menyelesaikan misi kalian ini."


"Tapi aku masih tidak mengerti mengapa mereka ada di Tarakan? Padahal target kita juga menghilang di Jakarta," gumam Lucy pelan. Ia terdiam memikirkan alasan kenapa Andrich dan Melinda bisa ada di Tarakan.


Sementara yang lain sibuk berdiskusi, beda halnya dengan Rei yang sejak tadi terdiam.


Pria itu sejak tadi terus dipenuhi pertanyaan yang sama mengenai alasan kenapa Andrich dan Melinda bisa ada di Tarakan.


Kenapa mereka ada di sana? Dan kenapa, ini begitu kebetulan dengan kejadian yang aku alami?


Saat pertama kali aku terbangun dengan ingatan yang hilang, aku ada di dalam kapal yang mendarat di pelabuhan daerah Tarakan.


Apakah jangan-jangan…


Mereka hendak kembali ke laboratorium?


Kalau mereka memang akan kembali ke laboratorium, itu artinya ada kesempatan untukku mencaritahu alasan kenapa ingatanku hilang.


Mungkin saja, dengan aku mengikuti mereka hingga ke laboratorium, aku bisa menemukan sisa ingatanku yang hilang.


Mungkin aku juga akan menemukan jawaban atas rasa penasaran yang selama ini menghantui diriku, tentang alasan kenapa aku bisa kehilangan ingatanku, kenapa aku memiliki lebih dari satu kemampuan, dan kenapa profesor selalu hadir dalam mimpiku.


Mungkin, semuanya akan terjawab setelah aku kembali ke tempat itu.


Rei terdiam sambil memandang keluar jendela. Berbagai spekulasi bermunculan dalam benaknya.


Sesekali ia memandangi telapak tangannya.


Memandangi bagian tubuhnya yang senantiasa menunjukkan kemampuan spesialnya sebagai evolver.


...***...