Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 159 - Aku ingin pulang



...***...


Aku ingin pulang, batin Elvina yang benar-benar sudah tidak tahan terus berada dalam posisi yang tidak nyaman ini. Apakah ia harus duduk bersama dengan sekelompok orang yang bahkan tak dikenalnya.


Elvina beranjak bangun dari tempat duduknya. Leon yang melihat itu spontan menarik tangannya guna menghentikan langkahnya sebelum jauh.


"Kau mau kemana?"


"Sa… m… maksudku, aku ingin pergi ke toilet." Elvina terbata. Nyaris saja ia berbicara dengan bahasa formal. Bisa-bisa semua teman Leon tak percaya dengan hubungan mereka. Walaupun ini pura-pura, tapi Elvina tak ingin membuat bosnya itu malu didepan semua orang. Apalagi teman-temannya.


"Baiklah, toiletnya ada di ujung lorong yang tadi kita lewati."


"Iya."


Leon melepaskan cengkraman tangannya, ia lantas melangkah pergi menuju toilet untuk sedikit memberikan ruang gerak untuk dirinya.



Tiba di dalam toilet, Elvina menghela napasnya berulang kali. Ia benar-benar harus menambah persediaan kesabarannya untuk menghadapi sosok Leon yang sejak tadi pagi benar-benar mengujinya.


Elvina membasuh tangannya berulang hanya sekedar untuk mengulur waktu di dalam toilet dan mempersiapkan dirinya sebelum kembali berhadapan dengannya. Setelah di rasa cukup lama, Elvina lantas melangkah keluar.


Sudah hampir dua puluh menit ia berada di dalam toilet, dan tangannya bahkan sudah mulai keriput karena terlalu lama mencuci tangannya.


Elvina menghentikan langkahnya secara tiba-tiba saat seorang pria berdiri menghalangi jalannya.


Elvina mendongak menatap sosok lelaki yang berdiri di sana. Ia tahu pria itu, dia adalah salah satu teman Leon yang tadi dilihatnya.


"Hai, aku Ryan," sapa pria itu seraya tersenyum simpul ke arahnya.


"Ya. Aku tahu, kau adalah salah satu teman Leon, 'kan?"


"Sepertinya aku tidak bisa, aku harus kembali. Kalau ada yang ingin kau bicarakan langsung bicarakan saja."


"Tidak di sini, tidak nyaman berbicara di depan toilet seperti ini. Ayo bicara di tempat yang lebih tenang." Ryan dengan seenaknya menarik tangan Elvina.


Elvina menahan langkahnya. "Aku tidak mau ikut denganmu."


"Aku hanya ingin bicara sebentar saja. Tidak akan lama." Ryan menarik Elvina paksa. Elvina memberontak, tubuhnya sampai terseret dibelakang.


Elvina merasa ada yang tidak beres dengan Ryan, firasatnya mengatakan kalau lelaki ini bukanlah orang yang baik.


"Lepaskan aku!" Elvina memberontak terus tapi Ryan dengan cepatnya membawa Elvina menuju sudut lain yang lebih tenang. Tak banyak orang yang menghampiri lorong itu, terlebih sepertinya itu adalah lorong menuju gudang penyimpanan barang.


"Aku hanya ingin bicara denganmu sebentar." Ryan menghentikan langkahnya.


"Aku tidak ingin bicara denganmu!" tukas Elvina kesal.


Mendadak pria itu mencengkram kedua tangannya, menarik tubuhnya ke sudut hingga menghantam dinding.


Kedua tangannya di cekal, dipegangnya keras di atas kepalanya. "Lepaskan kau brengsek!" Elvina memberontak. Ia mulai merasa takut, apalagi tatapan Ryan yang kini menatapnya intens.


"Aku ingin bermain sebentar denganmu." Ryan memegangi pundak Elvina memintanya untuk diam sementara tubuh Elvina terus memberontak.


Ryan mencengkeram pundaknya erat hingga lengan bajunya robek. "Lihat, kulitmu begitu mulus."


"Singkirkan tanganmu dariku!" pekik Elvina kesal. Matanya mulai memanas, ia mulai berkaca-kaca dengan tubuh yang gemetar hebat. "Kita bermain sebentar."


Sial! Apa yang harus aku lakukan? batinnya.


...***...