Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 347 - Lucy



...***...


"Keadaan tim kita benar-benar kacau semenjak kita kehilangan dia," gumamnya pelan dalam bahasa Inggris sembari menaruh shotglass yang ada dalam genggamannya. Wanita itu beradu tatap dengan lelaki tampan dihadapannya.


Pria itu menghela napas pelan. Meneguk wine miliknya kemudian berkata, "kau benar. Semenjak ketiadaannya, kita jadi harus merepotkan tim lain. Di tambah lagi, misi yang kita jalani kali ini benar-benar membuatku frustasi."


Aland. Merengut, mengacak-acak rambutnya frustasi. Misi yang mereka jalani benar-benar berbeda dari misi yang pernah mereka tangani sebelumnya.


"Sialnya kita tidak bisa menemukan sedikitpun petunjuk mengenai sindikat mereka. Segala hal tentang mereka seakan lenyap tanpa jejak begitu saja. Aku benar-benar geram jadinya." Lucy bersandar sambil memijat pelipisnya pelan.


"Our target this time is completely different from before…" Aland meneguk kembali minumannya. Menikmati setiap sensasi yang ia rasakan pada tenggorakannya ketika wine itu masuk ke dalam mulutnya.


(Target kita kali ini benar-benar berbeda dari sebelumnya…)


Lucy diam tertunduk.


"Now I understand what Garmond said last time," lirihnya. Entah kenapa Lucy secara tiba-tiba kembali teringat akan kejadian setahun yang lalu, saat ia menghabisi nyawa lelaki yang menjadi musuhnya itu. Garmond, mengucapkan kata-kata terakhir yang sampai saat ini tak pernah luput dari ingatannya.


(Sekarang aku mengerti apa yang diucapkan Garmond waktu itu.)


Aland menatap sang empu yang tengah diajaknya bicara. "Did he say something?" tanyanya.


Semenjak kejadian setahun lalu itu, Lucy tak pernah membicarakan Garmond lagi. Bahkan ia juga tidak menjelaskan padanya, apa yang diucapkan lelaki itu terakhir kali.


Lucy menjawab ucapannya dengan anggukan kepala.


"Apa yang dia ucapkan padamu saat itu?"


Lucy termangu mencerna ucapan Aland. Pikirannya melayang, menerawang jauh menuju ingatan mengenai kejadian yang dialaminya setahun lalu.



...*...


2019


Baku tembak tak bisa terelakkan. Keringat mengucur deras membasahi tubuhnya yang kini berbalutkan pakaian hitam ketat yang selalu menjadi saksi atas setiap petualangannya.


Langit malam, dengan sang bulan purnama yang tak pernah bosan selalu menemani di setiap langkahnya.


Menerangi sang mawar berduri yang selama ini telah melewati hitam putih dan gelapnya dunia ini.


Lucy, bangun tergopoh-gopoh dari posisinya. Luka di beberapa bagian tubuhnya tak menghentikannya untuk melawan lelaki yang menjadi musuh bebuyutannya itu.


"Kau sudah membunuh Beatrix, dan aku tidak akan tinggal diam! Mata harus dibayar dengan mata, begitu juga dengan nyawa." Garmond bangun dengan tangan terangkat menggenggam pistol di tangannya.


Ia mengarahkan moncong pistol itu ke arah Lucy, dan siap untuk menembaknya. "Kau harus membayar atas kematian Beatrix!" teriaknya.


Dorr! Dorr! Dorr!


Tembakan beruntun ia layangkan ke arah wanita berambut pirang itu. Timah panas berhamburan keluar, melesat menuju arahnya.


Lucy tak tinggal diam. Ia berlari menuju arah Garmond, menghindari setiap serangannya walaupun beberapa di antara serangannya berhasil mengenai dirinya. Tapi hal itu tak membuat langkahnya terhenti.


Lucy terus berlari sekuat tenaga. Garmond mulai cemas saat peluru pada pistolnya sudah semakin menipis, tapi Lucy masih bisa bertahan.


Bugh!


Lucy menendang pistol dalam genggamannya hingga membuat pistol di tangan Garmond seketika terlempar ke lantai. Belum sempat Garmond menoleh, Lucy kembali menyerangnya. Menendangnya dengan dua putaran.


Kakinya tepat menendang wajahnya.


...***...