
...***...
Elvina berusaha untuk bangkit. Namun, ia tertahan saat menyadari tubuhnya terikat dalam posisinya. Elvina mendongak. Ia membelalakkan mata begitu sadar apa yang terjadi padanya.
Kedua tangan dan kakinya terikat, begitu pula dengan bagian pinggangnya. Pakaian hangat yang semula menutup tubuhnya sudah berganti menjadi baju pasien operasi.
Apa yang terjadi? Kenapa aku di ikat? Dimana aku? batin Elvina. Ia mulai panik. Elvina mulai memberontak berusaha untuk membebaskan diri. Tapi, seberapa keras dirinya berusaha, tetap saja tidak bisa lepas.
Elvina terdiam sejenak, ia berusaha untuk menenangkan diri dan menjernihkan pikiran agar bisa memikirkan cara untuk membebaskan diri dari tempat ini.
Pandangan mata Elvina mengedar secara perlahan. Ada banyak sekali alat-alat kedokteran aneh yang belum pernah ia jumpai sebelumnya. Walaupun belum pernah melihatnya, tapi Elvina bisa dengan jelas menebak bahwa itu adalah alat-alat kedokteran. Sebagian besar alat-alat itu terpasang pada tubuhnya.
Kenapa aku bisa berada di tempat ini? pikir Elvina. Ia mengerutkan kening berusaha mengingat apa yang terjadi padanya sebelum ia tidak sadarkan diri dan tiba-tiba terbangun di tempat ini.
Aku berada di sini, jangan-jangan… apakah mereka yang membawaku kemari? batinnya. Elvina kembali memberontak, jelas-jelas ada yang tidak beres dengan beberapa pria berjas hitam yang di temuinya.
William? Benar. Dimana dia? Kenapa dia tidak ada? Apakah mereka sudah melakukan sesuatu padaku? Elvina semakin panik kala ia sadar bahwa adiknya, William. Hilang dari sisinya. Elvina sama sekali tidak bisa menemukan keberadaan William dimana pun.
Aku harus bisa bebas dari ini. Aku harus mencari William. Aku juga harus mencari Rei. Aku tidak boleh terus berada di sini. Ia kembali memberontak dengan sekuat tenaganya. Sialnya ikatan pada tubuhnya terlalu kencang.
Fokus pandang Elvina kemudian beralih pada jendela di dekat pintu keluar. Elvina mendadak berhenti meronta ketika melihat sosok siluet seorang laki-laki yang berjalan di luar.
Mata Elvina beralih ke arah pintu masuk yang perlahan terbuka, menampakkan sosok laki-laki tadi. Ia melangkah masuk dengan wanita yang sama di sampingnya.
Seorang pria tua, mengenakan kacamata, dengan jas dokter berwarna putih melekat di tubuhnya, berdiri di ambang pintu dengan wanita yang mengenakan pakaian suster.
"Ternyata kau sudah sadar. Bagaimana perasaanmu?" tanya pria itu seraya mendekat ke arah Elvina bersama si suster. Mereka berdiri di dekat meja operasi yang ditempati Elvina.
"S… siapa kau! Siapa kalian! Apa yang kalian mau? Kenapa kalian membawaku kemari? Dimana aku? Dimana adikku?!" teriak Elvina bersungut-sungut.
Mereka hanya diam dengan begitu tenang. Si laki-laki tua itu justru membenahi posisi kacamatanya yang sedikit turun.
"Kau tidak perlu cemas, kau dan adikmu berada di tempat yang aman. Adikmu masih berada di sini, dia masih belum sadarkan diri di samping ruanganmu ini."
"Apa yang kalian inginkan dariku? Apa yang telah kalian lakukan?! Kenapa kalian mengikatku seperti ini?!" Elvina menyercanya dengan berbagai pertanyaan.
"Kau tidak perlu cemas. Aku hanya melakukan beberapa perubahan kecil pada tubuhmu," tutur pria itu.
...***...