Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 383 - Indonesia?



...***...


"Eth, apakah kau bisa melacak kemana dia pergi?"


"Aku sudah mencoba meretas alat komunikasi yang ia gunakan, tapi aku benar-benar minta maaf. Usahaku gagal, seperti yang aku katakan. Keamanan jaringannya benar-benar lebih canggih dan lebih rumit, akan memakan waktu yang sangat lama untuk meretasnya."


"Kalau begitu coba retas jaringan di bandara, dan cek di sistem mereka."


"Oh, benar! Itu mungkin bisa, kalau begitu sebentar." Ethan sibuk mengotak-atik laptopnya, suara keyboard terdengar di tekan begitu cepat.


"Aku berhasil! Dia memesan tiket menuju Indonesia!"


"Indonesia?"


"Ya. Dan penerbangannya akan terbang sebentar lagi."


"Kalau begitu kita harus bergegas." Lucy cepat-cepat beranjak dari tempatnya.


"Aku akan memesan tiket dan membeli dua tiket untuk kita," kata Aland.


"Baik, Al. Terima kasih."


"Bukan masalah."



...*...


Derek dan Pricilla segera keluar dari toilet, berjalan dengan tergesa-gesa guna menghindari kejaran dari agen EA yang sejak tadi terus mengejar mereka.


Agen EA yang mengejar mereka sampai kebingungan. Ia segera melakukan scanning dengan lensa kontaknya dan mencari keberadaan mereka.


Ia mengejar Derek dan Pricilla hingga masuk ke dalam pesawat yang akan mengantarkan mereka pergi.


Derek dan Pricilla masuk ke dalam pesawat. Mereka berdua duduk di kursi miliknya. Dengan menggunakannya penyamaran berbeda, berhasil membuat agen EA yang mengejar mereka kebingungan.


Aku yakin dia tidak akan bisa menemukan kita berdua, pikir Derek yang beralih pandang keluar jendela. Sementara itu, Pricilla duduk tepat di kursi bagian depannya.


Pricilla berusaha untuk tenang walau tangannya gemetar hebat. Tidak duduk dengan satu kursi yang sama dengan Derek, membuat Pricilla was-was. Ia takut kalau ada evolver atau agen EA yang menyadari penyamaran mereka.


Aku harap tidak akan menyadariku. Hanya kalimat itu yang terus ia rapalkan dalam benaknya.


...*...


Sedang, target mereka berjarak beberapa kursi dari yang mereka tempati.


Lucy terus melirik pada target mereka dan mengawasi setiap gerak-geriknya. Lucy tak ingin sampai kecolongan.


"Kau tenang saja, kita pasti akan berhasil menangkapnya." Aland tersenyum sembari menggenggam tangan Lucy.


Lucy tertegun. Cepat-cepat ia melepaskan genggaman tangan Aland.


"Aku lupa, ada yang harus aku lakukan sebelum pergi," ujarnya.


"Apa?"


"Aku mau ke toilet sebentar sebelum berangkat." Ia beranjak bangun dari tempatnya dan melangkah menuju toilet.


Lucy menutup pintu toilet begitu ia tiba di dalam sana. Menguncinya rapat agar tak ada yang bisa mendengar pembicaraannya.


Lucy menaikkan lengan mantelnya hingga thorny bites miliknya nampak, masih melekat pada pergelangan tangannya.


Ia mengotak-atik benda itu hingga menampakkan layar hologram. Segera ia mencari nomor yang hendak ia hubungi sebelum keberangkatannya yang tiba-tiba ini.


Lucy meneruskan sambungan telponnya itu dengan handsfree yang terpasang pada telinganya.


"Halo?" Bariton seorang pria di seberang sana di dengarnya. Suara beratnya selalu berhasil membuat rasa lelahnya hilang dalam sekejap.


Lucy mengulum senyum mendengar suara indah lelaki itu.


"Hai, sayang," sapa Lucy.


"Hai. Ada apa? Kenapa kau menghubungiku jam segini? Tidak seperti biasanya. Apakah kau tidak memiliki misi?"


"Huh? Itu… ada yang harus aku bicarakan denganmu, maka dari itu aku menelponmu," ujar Lucy.


"Apa?"


...***...