
...***...
"Apa yang kau bayangkan! Aku sungguh tidak melakukan apa-apa dengannya!" Elvina menekan kalimatnya.
"Ya, baiklah kalau kau berkata begitu. Aku percaya," ucap Linda, namun dengan nada tak percaya yang menjengkelkan.
"Sungguh!"
Perhatian keduanya mendadak tersita oleh kedatangan Leon yang akhirnya bisa menemukan keduanya.
"Elvina!" teriaknya.
Elvina mendengus kesal melihat si tukang perintah itu tiba dihadapannya dengan napas tersengal, sementara itu Linda semakin menatap ke arahnya curiga.
"Ayo pergi dan jangan pedulikan dia!" Elvina menarik tangan Linda menjauh.
Leon mempercepat langkahnya dan menahan keduanya. Berdiri dihadapan mereka.
"Biar aku antarkan kau pulang." Leon berusaha mengatur napas.
"Tidak perlu!" tolaknya cepat.
Linda makin yakin kalau mereka memiliki hubungan. Ia menatap bergantian antara sahabat dan atasannya.
"Ayolah, biarkan aku mengantarmu pulang."
"Aku bisa pulang sendiri," tukas Elvina. Ia menarik tangan Linda dan berjalan melewati Leon dihadapan mereka.
Leon berusaha menahan langkahnya. Ia menarik tangan Elvina, tapi baru saja hendak protes padanya, tiba-tiba sesuatu terjadi.
Elvina berbalik. Semua orang tiba-tiba berhenti bergerak dan berdiri dengan posisi membeku pada tempat masing-masing.
Elvina menatap Leon dan Linda bergantian, keduanya membatu bagaikan patung.
I… ini… Elvina mengedarkan pandangannya. Ia tahu kalau setelahnya akan ada seseorang yang berusaha menangkapnya. Elvina melepaskan cengkraman tangan Leon dari pergelangan tangannya, pun dirinya melepaskan genggamannya pada tangan Linda.
Aku yakin ini Joe, tapi dimana dia? Kenapa aku tidak bisa menemukan keberadaannya sama sekali? Dimana dia? Elvina terdiam dengan pandangan yang terus mengedar. Bersikap waspada, takut kalau-kalau secara mendadak pria itu menyerangnya tanpa dapat diprediksinya.
Bzzzttt!
Sesuai dugaannya, tanpa aba-aba lebih dulu. Listrik bertegangan tinggi bergerak menyambar ke arahnya.
Elvina refleks menggunakan kedua tangannya untuk melindungi diri. Tubuhnya sampai terseret ke belakang hingga akhirnya perisai medan gaya miliknya pecah hingga membuat serangan Joe tepat mengenai dirinya.
Brukk!
Elvina tersungkur di tanah. Tak lama, sosok Joe yang sejak tadi dicarinya itu muncul dari arah dimana serangannya berasal.
"Elvina… lama kita tidak bertemu." Joe berjalan perlahan dan berhenti sekitar beberapa belas meter dari arahnya terjatuh.
Elvina mendongak, matanya menatap tajam sosok pria yang berdiri dengan senyuman yang terukir diwajahnya.
Elvina memegangi dadanya yang terasa sakit akibat serangan Joe yang cukup kuat.
"J… Joe…" Elvina menahan sakit.
...*...
Siapa sebenarnya orang-orang tadi? Kenapa mereka berbicara seolah-olah mereka kenal denganku? pikir Rei. Selama perjalanan pulang, Rei terus saja bertanya-tanya mengenai sekelompok remaja yang ditemuinya di kafetaria sekolah tadi.
Rei sama sekali tidak bisa fokus pada jalanan yang di tempuhnya. Ia terus merasa penasaran dengan mereka semua dan perasaan aneh yang muncul ketika ia dipertemukan dengan mereka.
Rei menghela napas pelan lewat helm yang dikenakannya. Ia berusaha untuk merilekskan dirinya dan berusaha untuk menghiraukan kalimat mereka yang cenderung tidak dapat dimengerti olehnya.
Rei menggeleng pelan, berusaha menendang semua pikiran itu dari otaknya. Tapi mendadak ketika matanya berkedip, Rei melihat bayangan itu.
Ia menghentikan motornya.
...***...