
...***...
"Kalau begitu aku pamit. Aku tidak ingin mengganggu jam kerjamu," ujar Lucy berpamitan.
"Tidak ingin mengganggu, tapi kau sudah membuat kekacauan di setengah kantorku," sahut Leon. Lucy terkekeh mendengar ucapan dari Leon yang terang-terangan.
"Sorry," ucapnya. "Elvina, lain kali mari menghabiskan waktu bersama. Aku suka denganmu, dan kau cocok untuk menjadi pendamping hidup Leon. Dia memang membutuhkan wanita sepertimu, aku harap hubungan kalian terus langgeng hingga pernikahan." Lucy menggenggam tangan Elvina.
Elvina diam. Sebagian kalimatnya dapat ia mengerti, tapi selebihnya tidak.
Leon menjelaskan apa yang Lucy ucapkan. Wajah Elvina memerah saat mendengar ucapan Lucy.
"Boleh saja. Aku juga suka denganmu, mari habiskan waktu bersama," jawab Elvina sambil tersenyum.
"Okay, aku pergi." Lucy melepaskan genggamannya pada Elvina.
"Jangan lupa untuk datang ke rumah nanti malam. Kita makan malam bersama, papa dan mama pasti akan sangat senang melihatmu datang berkunjung!" teriak Leon.
"Baiklah, aku akan datang dengan seseorang. Tidak apa-apa 'kan?"
"Ya, tentu!"
"Kalau begitu sampai jumpa!" Lucy melambaikan tangan pada Elvina dan Leon yang kini berdiri di depan gedung MLV corporation. Sementara Linda sejak tadi sudah kembali ke ruangannya untuk mengerjakan tugasnya.
Lucy melangkah masuk ke dalam taksi kosong yang ia hentikan. Leon sempat menawarkan Irfan untuk mengantarnya, tapi ia menolak. Lucy bilang kalau ia bisa pulang sendiri.
Lucy duduk di jok belakang. Ia merogoh kantong pada rok pendek yang ia kenakan dan memasang kembali handsfree yang sempat ia lepaskan.
Ia menekan tombol yang ada di sana hingga Lucy terhubung lagi dengan Aland dan Ethan.
...*...
Aland mendudukkan Lucy di sofa dan menunjukkan laptop menyala dihadapannya.
"Look!" ujarnya sembari memperlihatkan soft copy dari berkas berisi informasi target mereka.
Lucy membaca ulang semuanya dengan seksama, kedua matanya membulat saat membaca apa yang tertera di sana.
"Apa ini? Target yang kita kejar selama ini berasal dari Indonesia?" Lucy menoleh pada Aland dengan wajah tak percaya.
"Ya. Dan aku dengar, Am serta semua korban lain juga menghilang di satu titik yang sama, dan itu adalah Indonesia!" jelas Aland.
"Itu artinya, mereka ada di salah satu daerah di Indonesia, begitu?"
"Yup!" Aland mengangguk.
"Aku mendapatkan semua informasi ini dari Eth, dan dia yang sudah membuatku sadar bahwa selama ini kita tidak menyadari semua ini lebih awal," tutur Aland.
Brakk!
Lucy menggebrak meja dengan cukup keras hingga membuat barang-barang di atas sana bergetar hebat.
"Lagi-lagi. Kenapa dengan mudahnya kita di permainkan oleh mereka?!" Lucy kesal bukan main. Lagi-lagi mereka di permainan oleh musuh mereka sendiri.
Aku tidak akan membiarkan ini. Aku tidak akan tinggal diam, dan aku akan bergerak lebih cepat dari kalian. Lihat saja! Aku akan membuat kalian kalah dari langkahku, dan akan aku buat kalian jatuh dalam cengkramanku. Kalian akan habis di tanganku. Sama seperti Beatrix dan Garmond! Lucy membatin.
"Kita harus bertindak satu langkah lebih maju dari mereka!" Lucy mendongak beradu tatap dengan Aland, penuh keyakinan.
"Ya, aku setuju. Bagaimanapun kita harus menyelesaikan misi ini secepat mungkin!"
"Kita pasti bisa menemukan caranya!"
...***...