
...***...
"Seharusnya kau tetap tidak melupakan istirahat walaupun pekerjaanmu banyak!" tukas Pricilla begitu mendapati Derek menatapnya.
"Penelitianku hampir selesai."
"Aku tahu. Tapi aku tidak ingin kau sampai sakit hanya karena bekerja terlalu keras! Ingat, tubuhmu juga membutuhkan istirahat Derek?! Walaupun kau adalah evolver dan kau memiliki daya imun tubuh lebih baik daripada manusia biasa sepertiku, tapi kau tetap butuh istirahat."
Derek menaruh pena dan bukunya lalu memutar kursi yang ia duduki hingga menghadap pada Pricilla.
Derek meraih tangan Pricilla dan menggenggamnya.
"Aku tahu kau cemas padaku, tapi aku ingin semua ini cepat selesai."
"Tapi bukan begini caranya! Jangan memaksakan diri. Bagaimanapun, kau harus bisa mengatur waktu agar energimu juga tidak banyak terkuras."
"Aku janji tidak akan mengulanginya."
"Harus! Kau tidak boleh lupa untuk beristirahat."
"Baiklah." Derek tersenyum simpul ke arahnya.
Melihat Derek yang tersenyum seperti ini membuat emosi Pricilla padam begitu saja.
Seberapa keras pun aku mengelak, aku tetap tidak bisa membohongi perasaanku kalau aku menyukaimu, Derek, batin Pricilla.
Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Aku tidak bisa terus diam dan menunggu.
Aku ingin kau tahu apa yang aku rasakan, dan aku tidak ingin menyimpan hal ini lebih lama lagi.
Aku akan menyatakan sekarang juga. Karena aku tidak tahu, dalam keadaan seperti ini… apakah masih akan ada hari esok untukku dan kau bersatu.
Pricilla mendekatkan wajahnya. Tanpa aba-aba lebih dulu, wanita itu mendaratkan sebuah ciuman di bibirnya.
Derek tercekat. Ia menjauhkan wajahnya, tapi Pricilla memegangi tengkuknya.
Wanita itu melepaskan ciumannya setelah beberapa saat.
"A… apa yang kau lakukan barusan?" Derek tidak bisa berkata-kata. Wajah pria itu sampai merona dibuatnya.
"Menurutmu apa lagi? Aku baru saja menciummu," kata Pricilla dengan suara tenang.
"Aku tahu. Tapi maksudku… kenapa kau. Tidak, kau melakukannya dengan sengaja?" Derek menampakkan raut wajah bingung. Ia sampai terbata-bata saking kagetnya dengan pergerakan Pricilla barusan.
"Aku hanya ingin kau tahu bagaimana perasanku padamu." Pricilla tersenyum.
Derek terdiam sesaat. Jantungnya berdebar-debar, sedangkan otaknya masih berusaha memproses setiap kejadian yang baru saja dialaminya.
"Aku mencintaimu, Derek…"
"Eh?"
"Aku tidak tahu seberapa banyak lagi waktu yang tersisa untuk kita. Jadi aku putuskan untuk menyatakan perasaanku sebelum sisa waktu kita habis dan kita tidak memiliki kesempatan untuk bersama. Setidaknya dengan aku menyatakan perasaanku padaku, aku tidak takut lagi untuk menghadapi segala hal yang akan terjadi pada kita."
Derek terdiam membenarkan ucapan Pricilla. Memang benar, mereka tidak pernah tahu seberapa banyak lagi sisa waktu yang mereka miliki. Karena jujur saja, Derek merasa ragu kalau mereka akan bisa bertahan dan selamat walaupun sudah tinggal di Finlandia.
"Asal kau tahu saja, Derek. Kau adalah pria pertama yang membuatku jatuh cinta dengan cara yang berbeda. Kau adalah pria pertama yang membuatku berani mengambil langkah lebih dulu untuk menyatakan perasaanku, dan kau juga yang mengubahku menjadi orang yang melihat sisi dunia yang berbeda…"
"…Karenamu, aku jadi belajar banyak hal, dan karenamu juga, aku jadi melihat banyak hal yang belum pernah kulihat sebelumnya…"
"…Semua itu, tanpa sadar membuatku jatuh cinta padamu. Kau membuatku merasa nyaman…"
...***...