Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 142 - Tes DNA



...***...


Rei terdiam memandangi dirinya di depan cermin. Saat ini dirinya berada di dalam toilet. Pikirannya benar-benar dibanjiri oleh berbagai pertanyaan yang terus bermunculan mengenai dirinya.


Kalau aku tidak amnesia dan aku baik-baik saja, lalu kenapa aku tidak ingat apa-apa tentang masa laluku? Apa yang sebenarnya terjadi padaku? Siapa sebenarnya aku? Dimana orang tuaku yang sesungguhnya? Berbagai pertanyaan menyerang pikirannya. Rei benar-benar tidak mengerti dengan dirinya sendiri.


Ketika orang lain bisa ingat dengan identitasnya, dan siapa diri mereka. Lalu kenapa Rei tidak bisa ingat sama sekali?


Rei frustasi dibuatnya. Ia menyalakan keran air, membasuh wajahnya berulang kali dan berharap pikirannya bisa sedikit lebih jernih.



...*...


Setelah kembali dari toilet, Sandy dan Isyana meminta Rei untuk melakukan satu pemeriksaan lagi. Rei hanya mengiyakan ucapan kedua orang tuanya dan mengikuti kemana mereka pergi.


Rei dibawa menuju ruangan yang sama dengan ruangan yang tadi sempat mereka kunjungi untuk pengecekan darahnya.


"Kenapa kita kemari lagi? Bukankah aku sudah menjalani pemeriksaan ini?"


"Ada pemeriksaan yang papa lewatkan, maka dari itu kita harus kemari dan mengeceknya. Kali ini, kalau kau tidak ingin di suntik, kau bisa gunakan rambut atau saliva mu untuk mengeceknya," jelas Sandy.


"Rambut?" Rei mengerutkan keningnya. Sebenarnya ia tahu dengan jelas maksud pemeriksaan yang mereka akan lakukan terhadapnya, tapi ia sebisa mungkin untuk bersikap biasa dan seolah tak tahu pemeriksaan apa yang mereka maksud.


Rei sendiri juga ingin memastikan apakah dirinya benar-benar anak dari Sandy dan Isyana atau bukan.


Isyana hanya diam dengan raut wajah cemas, ia resah karena takutnya hal ini membuat Rei tersinggung dan merasa sakit hati dengan tindakan yang telah mereka ambil. Tapi hal itu tak sebesar rasa penasaran dan keingintahuannya terhadap kebenaran mengenai Rei dan identitasnya yang sebenarnya.


Maaf kami harus melakukan ini, sayang…


...*...


Hening. Tak ada sepatah kata pun yang terlontar dari bibir masing-masing, yang terdengar sejak tadi hanyalah bunyi denting sendok dan garpu yang saling beradu satu sama lain.


Malam sudah tiba. Setelah melakukan beberapa tes di rumah sakit, Rei dan orang tuanya lantas pulang dan menunggu hasil tes terakhir yang Rei dan Sandy lakukan.


Sandy dan Isyana cemas dengan hasil yang nantinya akan keluar, mereka gugup setiap kali mengingat akan tindakan mereka yang melakukan tes DNA terhadap putra mereka sendiri.


Di sisi lain, Samuel terus fokus pada ponselnya. Pria itu sibuk bermain video game pada ponselnya, hal biasa yang ia lakukan sepulang kantor.


Ada aura berbeda yang Rei rasakan setiap kali melihat kakak keduanya itu. Walaupun mereka sama-sama lelaki, tapi Rei merasa bahwa ada dinding yang sejak awal menghalangi persaudaraan mereka. Rei tidak merasa dekat dengannya, tidak seperti saat ia bersama dengan Stephanie.


Lalu Shella, anak itu sejak tadi terus bergumam pelan seorang diri. Berbicara seolah-olah sedang melakukan review makanan siaran langsung seraya merekam dirinya di ponsel milik Isyana yang selalu dipinjamnya.


Aku benar-benar penasaran dengan hasilnya, batin Rei.


...***...