
...***...
William menghiraukan ucapan kedua temannya dan terus menatap ke arah Claretta dan lelaki yang kini menarik gadis itu untuk bangun.
William spontan bangun dari duduknya saat melihat perlakuan kasar dari lelaki itu pada Claretta, ia segera menghampiri mereka.
"Will, kau mau kemana?" teriak Calvin dan Jack berbarengan saat melihat William mendadak bangun dan berjalan menghampiri mereka.
William tak mengindahkan teriakan kedua temannya dan terus berjalan.
"Ikut aku sebentar." Lelaki itu menarik tangan Claretta kasar.
"Aku tidak mau, lepaskan aku!" Claretta berusaha melepaskan cengkraman tangannya.
"Claretta!" bentak lelaki itu kesal.
"Lepaskan tanganku! Aku tidak ingin bicara denganmu?!" Claretta terus memberontak berusaha membebaskan diri. Tapi tenaganya tak cukup untuk melawan tenaga lelaki itu.
Claretta berjalan terseret dari posisinya.
Tiba di sana, William segera mencekal pergelangan tangan lelaki itu guna menahan Claretta.
"Lepaskan dia!" tukas William dengan tatapan tak bersahabat padanya.
Keduanya spontan mendongak ke arah William yang baru saja tiba dan mencekalnya.
Lelaki itu melepaskan cengkeramannya dari Claretta.
"Kau lagi. Kenapa kau suka sekali ikut campur dalam urusan kami berdua? Apakah kau tidak memiliki kegiatan lain?" Lelaki itu menatap kesal ke arah William yang untuk kedua kalinya mengacaukan usahanya untuk bicara dengan Claretta.
D… dia, bukankah dia adalah lelaki yang waktu itu aku jumpai di ruang UKS? Claretta terkejut akan kedatangan William yang secara tiba-tiba.
"Sudah aku bilang kalau aku tidak akan tinggal diam jika melihat perempuan di sakiti di hadapanku," ujar William.
"Kenapa kau tidak berpura-pura tidak lihat saja? Bukankah itu lebih baik daripada kau ikut campur dalam urusanku dan dia?" Lelaki itu mulai kesal mendengar ucapan William.
"Aku tidak mungkin berpura-pura tidak melihat apa yang jelas-jelas ada di depan mataku?!"
Laki-laki itu menghela napasnya kasar. "Kau benar-benar menyebalkan dan suka sekali ikut campur," gumamnya pelan.
Lelaki itu melangkah menghampiri William, mengikis jarak di antara mereka.
William berada dalam jarak yang sangat amat dekat dengan lelaki dihadapannya. Keduanya beradu tatap satu sama lain.
"Dengar, biar aku peringatkan padamu. Jangan pernah ikut campur dalam urusanku lagi, atau kau akan menyesalinya." Lelaki itu mendorong dada William dengan telunjuknya.
William bergeming. Ia balas menatap tajam, bak elang yang menatap mangsanya.
Tatapannya bahkan lebih tajam dari pedang yang menghunus musuhnya.
"Aku sedikit pun tidak takut dengan ancamanmu, dan seperti yang aku katakan tadi. Aku tidak akan ikut campur kalau kau memperlakukan perempuan dengan cara yang halus. Kalau kau bersikap kasar seperti barusan lagi, aku tidak akan tinggal diam." William balas mendorong dadanya.
Sejurus kemudian keduanya terdiam tanpa suara, beradu tatap satu sama lain dengan pandangan tak bersahabat.
Claretta agak panik. Ia takut kalau keduanya tiba-tiba bertengkar hanya karena dirinya.
"Hentikan! Jangan seperti ini. Aku tidak ingin ada keributan." Claretta berusaha untuk melerai keduanya. Ia mendorong tubuh kedua lelaki di hadapannya.
Alih-alih memisahkan diri. Lelaki itu malah mencengkram tangan Claretta erat.
Ia menoleh ke arah Claretta. "Ayo pergi dari sini."
Laki-laki itu berbalik, menarik tangan Claretta. Namun belum sampai selangkah, William sudah lebih dulu menangkap tangan Claretta yang lain.
...^^^***^^^...