Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 143 - Bulan purnama



...***...


Rei terbangun dengan napas tersengal. Ia duduk di ranjangnya, memegangi kepalanya seraya berusaha mengumpulkan seluruh kesadarannya.


Lagi. Mimpi itu kembali menghampiri dirinya, dan kali ini Rei terbangun tengah malam seperti beberapa hari terakhir setelah ia pindah ke rumah orang tuanya.


Masih terus mimpi yang sama, batinnya. Rei menghela napasnya pelan. Ia benar-benar lelah terus memimpikan hal yang sama di setiap pejaman matanya.


Perhatian Rei beralih pada cahaya yang begitu terang. Cahaya itu berasal dari jendela yang berada tepat di samping ranjang tidurnya.


Rei menyibak tirai yang menutupi jendela itu hingga membuat cahaya bulan purnama tampak begitu jelas menembus ke dalam kamar tidurnya.


Rei menatap bulan yang tampak begitu jelas itu. Diantara terangnya bulan di langit malam, Rei dapat melihat gemerlap bintang yang juga menghiasi langit malam itu.


Indah. Rei bahkan sampai kehilangan kata-kata untuk menggambarkan keindahannya.


"Bulan purnamanya tampak begitu indah," gumamnya.


Terangnya bulan purnama malam ini seakan memberikan isyarat padaku kalau dalam larutnya malam, aku tidak pernah sendiri. Karena akan selalu ada bulan dan bintang yang bersinar jauh di atas sana. Walau aku mungkin sesekali tak dapat melihat mereka, tapi mereka akan selalu berada di tempat yang sama. Di indahnya langit malam, mengawasiku dan menjadi saksi atas semua yang telah aku lewati selama ini. Rei mengulurkan tangannya, membuka jendela kamarnya hingga membuat ia dapat dengan jelas merasakan udara dinginnya malam yang begitu menusuk.


Rei sama sekali tidak merasa terganggu dengan udara dinginnya malam. Bulan purnama yang cantik membuatnya lupa akan dinginnya udara.


Rei menempatkan telapak tangannya diantara cahaya bulan yang bersinar menerangi malam. Ia memperhatikan cahaya yang menerangi tangannya.


"Kira-kira… apakah mimpi yang selama ini aku alami juga memiliki makna sendiri yang tidak aku sadari apa artinya?"



Akhir pekan tiba. Seperti yang telah Elvina janjikan pada Rei, mereka akan menghabiskan waktu bersama seharian itu.


Setelah selesai sarapan, Rei segera pergi menemui Elvina dan William di rumah mereka.


Tiba di rumah Elvina, Rei di minta untuk duduk sebentar dan mengobrol dengan mereka berdua.


"Aku dengar kau melakukan pemeriksaan beberapa waktu lalu." Elvina melangkah menghampiri Rei dan William dengan nampan berisi minuman serta camilan.


Elvina menaruh semua itu ke atas meja yang berada dihadapan mereka lalu mengambil duduk di salah satu kursi yang ada di dekat William.


Kini mereka bertiga berada di halaman samping, halaman yang menghadap langsung menuju taman.


"Iya," jawab Rei seadanya.


"Jadi bagaimana hasilnya?" William nampak penasaran.


"Aku sudah melakukan beberapa pemeriksaan pada seluruh tubuhku termasuk melakukan rontgen pada kepalaku, dan mereka menyimpulkan kalau aku tidak amnesia." Rei meraih cangkir berisi cokelat panas yang telah dibuatkan Elvina dan menyeruputnya pelan.


"Apa? Tapi, bagaimana bisa mereka menyimpulkan seperti itu?" Elvina tak habis pikir. Ia terkejut dengan penjelasan Rei, pun William yang bahkan sampai tidak dapat berkata-kata setelah mendengar ucapannya.


"Aku juga tidak tahu, yang pasti mereka bilang kalau aku baik-baik saja. Bahkan aku sangat sehat." Rei menaruh cangkir ditangannya kembali ke atas tatakan cangkir.


"Aku benar-benar tidak menyangka dengan apa yang aku dengar. Mereka bilang kau baik-baik saja padahal kau sungguh amnesia."


...***...