
...***...
"Kau tidak sopan!" tukas Elvina tanpa memperdulikan Amanda mengerti atau tidak dengan kalimatnya. Ia benar-benar curiga dengan Amanda yang terus bersikap aneh semenjak pertemuan mereka kemarin.
Amanda hanya diam tanpa menjawab, ia melirik ke arah tangan Elvina yang mencengkram pergerakan tangannya.
Mata Elvina ikut bergerak turun. Ia refleks melepaskan cengkraman tangannya saat melihat bingkai foto yang di genggam oleh Amanda. Napasnya mendadak tak beraturan dengan jantungnya yang mulai berdebar tak karuan, wajahnya berubah pucat dengan keringat dingin yang mendadak bermunculan keluar menghiasi keningnya.
Amanda tertegun melihat reaksi Elvina. Ia menoleh ke arahnya.
Elvina secara kasar menarik bingkai foto yang digenggam Amanda. Ia menatapnya lekat sosok yang ada di dalam bingkai foto yang di genggamnya.
Elvina speechless. Ia benar-benar tidak bisa berkata-kata untuk menggambarkan keterkejutannya.
Amanda melirik Elvina dan bingkai foto di tangannya bergantian. Ia lantas berkata, "You must be very surprised to see that, right?" Amanda bergerak menuju arah lain. Tangannya tak tinggal diam, ia terus bergerak menggeledah setiap benda yang ada di dalam sana.
(Kau pasti sangat terkejut melihatnya, kan?)
I… ini… ternyata Dorothy, dia… Elvina tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.
Dalam genggaman tangannya. Bingkai foto berisi gambar Dorothy muda bersama dengan tiga orang pria muda. Dua diantaranya adalah orang Eropa, sementara yang satu terlihat seperti orang Asia. Mereka tersenyum, mengenakan toga wisuda dengan senyuman terukir di wajah mereka. Mereka saling merangkul. Tampak sangat akrab satu sama lain. Fotonya berwarna hitam putih dengan tanggal yang terukir di tepi gambarnya. Tertulis di sana, tanggal foto itu diambil, sekitar tahun seribu sembilan ratusan. Namun entah tahun berapa pastinya, karena bagian di tanggal itu sedikit tergores hingga membuat angkanya terkelupas.
Tangan Elvina bergetar hebat begitu sadar siapa yang ada dalam foto itu.
Apakah jangan-jangan… mereka kembar? pikir Elvina.
"They are twins. Dorothy knew the two of then, because they were college friends. They study at one of the universities in London," jelas Amanda. Elvina beralih pandang ke arahnya, ia semakin terkejut dengan apa yang di dengarnya dari Amanda.
(Mereka kembar. Dorothy kenal dengan mereka berdua, karena mereka adalah teman masa kuliahnya. Mereka berkuliah di salah satu universitas yang ada di London.)
"How do you know?" tanya Elvina balik.
Amanda terdiam sejenak. Ia menundukkan kepalanya menatap salah satu benda milik Dorothy yang baru saja diambilnya dari atas meja.
Elvina menyipitkan kedua matanya, menatap penuh selidik pada Amanda.
"Because they are my target." Amanda menggenggam benda ditangannya erat sebelum kembali kembali beradu tatap dengan Elvina.
"Target?" ulang Elvina yang semakin bingung.
"Yeah." Amanda mengangguk pelan. Tangannya menaruh benda itu kembali ke atas meja. Ia menghampiri Elvina dengan tangan yang bergerak merogoh sesuatu dari dalam kantong celananya.
"Karena kau sudah mengawasiku sejak awal, maka tampaknya tidak ada pilihan lain, selain berkata jujur padamu mengenai identitasku yang sebenarnya," tutur Amanda dalam bahasa Inggris.
Elvina beradu tatap dengannya. Amanda mengeluarkan sebuah benda kecil seperti dompet, namun ukurannya lebih kecil dengan logo yang terbuat dari logam.
...***...