Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 255 - Sikap aneh



...***...


Lusia menoleh sedikit ke arah dimana Rei duduk. Setelah cukup lama menghabiskan waktu untuk menjauh darinya, akhirnya lelaki yang sedari tadi menatapnya itu hilang dari sisinya.


"Syukurlah dia sudah pergi," gumam Lusia begitu sadar Rei hilang dari tempatnya. Ia menghela napas lega karena akhirnya bisa bebas dari Rei yang entah kenapa tiba-tiba bersikap aneh.


"Aku tidak mengerti kenapa akhir-akhir ini dia jadi bersikap aneh."


"Kau mencariku?" Bariton suaranya membuat Lusia spontan menoleh ke arah lain. Ia tersentak bukan main begitu sadar wajah Rei berada tepat dihadapannya. Hanya beberapa centimeter lagi, dan wajah mereka akan bersentuhan.


Saking kagetnya, Lusia nyaris tersungkur ke belakang. Beruntung Rei memiliki refleks tubuh yang cepat, dan tangannya berhasil menangkap tubuhnya sebelum ia benar-benar jatuh.


"Kau harus lebih berhati-hati," ujarnya pelan.



Lusia memanas, wajahnya merah bak tomat siap panen. Tubuhnya mendadak kaku tak bisa digerakkan. Sedang mulutnya terkatup, speechless. Tanpa bisa berkata-kata.


Lusia beranjak bangun dengan gerakan cepat sebelum sadar jantungnya berdebar lebih kencang.


"A… apa yang kau lakukan?!" Lusia salah tingkah.


"Sudah aku bilang tidak ada."


"S… sikapmu benar-benar aneh!" Lusia meraih setumpuk buku yang hendak di pinjamnya dan segera pergi dari sana. Melarikan diri bagaikan kucing pengecut. Ia hanya tidak ingin jantungnya semakin berdebar kalau terlalu lama dekat-dekat dengan Rei.


"Lusia!" Gloria menghampiri gadis itu dengan Heru dan beberapa buku dalam genggaman mereka.


"Kau mau kemana? Bukankah kita akan membaca di perpustakaan?" Heru menaikkan sebelah aslinya, pun Gloria yang sama bingung dengan sahabatnya itu.


"A… aku mau baca di kelas saja." Lusia berjalan melewati keduanya.


"Tapi bagaimana dengan diskusi kelompoknya?" Gloria berusaha menghentikan sahabatnya.


"Aneh sekali sikapnya, dia kenapa?" Heru bergumam, kedua matanya menatap gadis yang terus melangkah semakin jauh dari pandangan mereka.


"Aku juga tidak mengerti, sikapnya akhir-akhir ini jadi aneh, dan wajahnya lebih mudah merona." Gloria menimpali.


...*...


Tidak biasanya Rei bersikap seperti itu. Dia kenapa sebenarnya? Sejak kejadian di ruang UKS waktu itu, sikapnya berubah aneh, pikir Lusia yang terus berjalan membelah koridor yang di padati siswa-siswi.


Ditangannya, Lusia menggenggam setumpuk buku yang beratnya bukan main. Beberapa kali, gadis itu sempat beristirahat di koridor yang sepi untuk menghilangkan pegal pada kedua tangannya.


Ia melangkah sambil melamun, mengingat-ingat kembali sikap Rei yang aneh terhadapnya.


Tanpa aba-aba lebih dulu mendadak buku dalam genggamannya di rebut paksa oleh seorang laki-laki yang tiba-tiba muncul dan berjalan di sampingnya.


Lusia beralih ke arah lelaki itu. Rei, lagi-lagi hanya menyunggingkan senyum kala dirinya menoleh.


"Seharusnya kau katakan padaku kalau kau mau kembali ke kelas."


"Apa yang kau lakukan, kembalikan buku-bukuku." Lusia berusaha menarik buku-buku dalam genggamannya kembali, tapi gagal. Rei menggenggam terlalu erat.


"Ini berat, biar aku yang bawakan."


"Aku bisa sendiri, kau tidak perlu membantuku."


"Tapi aku ingin." Rei berjalan dengan lebih dulu. Lusia mempercepat langkahnya, mengejar Rei.


Sejurus kemudian Lusia hanya bisa memasrahkan semua buku-buku itu beralih tangan pada Rei. Ia kini hanya berjalan.


...***...