
...***...
Dia tidak ada dimana pun? Kemana sebenarnya dia?
Melinda semakin resah saat menyadari Andrich benar-benar hilang.
Ia sudah berusaha bertanya pada beberapa penjaga dan evolver yang bekerja di lab yang ditemuinya.
Tapi tidak satupun di antara mereka, tahu keberadaan lelaki itu. Dengan kondisi panik, ia segera mencari cara untuk menemukan lelaki itu.
Entah kenapa sialnya perasaan Melinda juga ikut tidak tenang saat sadar lelaki itu hilang. Ia merasakan firasat buruk dengan hilangnya Andrich yang pergi entah kemana.
Aku harus mencari cara agar bisa menemukannya, pikir Melinda yang terus melangkah menyusuri koridor.
Tiba di pertigaan, ia nyaris bertabrakan dengan seorang lelaki yang berjalan berlawanan arah dengannya.
"Melinda?" Lelaki itu membulatkan mata begitu sadar siapa yang nyaris menabraknya.
"Azura," katanya yang sama kagetnya.
"Kau kenapa? Kenapa tidak hati-hati?"
"Aku sedang buru-buru. Ada yang harus aku cari."
"Ada yang sedang kau cari? Siapa?"
"Andrich."
"Andrich?" Azura menaikkan sebelah alisnya. Bingung.
"Siapa dia?"
"Evolver penjaga yang beberapa waktu lalu memiliki tugas yang sama denganku. Apakah kau melihatnya?"
"Aku belum pernah mendengar tentangnya. Bagaimana ciri-cirinya?"
"Dia di berikan tugas oleh tuan. Orangnya tinggi dengan kulit putih bersih, rambut hitam pekat, dan dia tampan."
"Lebih tampan mana denganku?" Azura tampak cemburu saat Melinda mengatakan Andrich tampan.
"Astaga, Azura! Aku tidak memiliki waktu untuk ini, aku harus secepatnya mencari dia!"
"Memangnya kenapa? Apakah dia sangat penting bagimu sampai-sampai kalau dia hilang sebentar, kau langsung mencarinya?"
"Bukan itu masalahnya, tapi dia memiliki semacam kelainan yang kalau di biarkan sendiri akan sangat berbahaya. Aku mencarinya karena… itu juga karena aku. Jadi kumohon, apakah kau pernah melihatnya?" Melinda menatap Azura dengan tatapan penuh harap.
Sepertinya dia memang sangat penting baginya, pikir Azura yang terdiam.
"Azura!" Melinda membuyarkan lamunannya.
"Aku belum pernah melihatnya, tapi aku tahu kita harus pergi kemana kalau mencari seseorang."
"Kemana?"
"Ikut aku." Azura menarik tangan Melinda menuju arah ruang pengawas.
...*...
"Melihat Elvina seperti ini, aku jadi tidak tega melihatnya. Bagaimana kalau kita membantunya? Bagaimanapun, dia adalah kekasih dari sepupuku," kata Lucy yang kini duduk di dalam mobil bersama Aland.
Mereka sedang mengawasi Rei dan Elvina yang berusaha mencari William.
Letak posisi mereka berada tidak terlalu jauh dari tempat keduanya duduk.
"Ide yang bagus. Dengan begitu, kita juga bisa lebih mudah untuk mengawasi mereka 'kan?" Aland menyetujui.
"Ya, kau benar."
"Kalau begitu, ayo!"
Lucy dan Aland melangkah keluar dari dalam mobil. Mereka hendak menghampiri Elvina dan Rei yang duduk di salah satu bangku yang ada di sana.
Belum sempat mereka sampai di hadapan Elvina dan Rei, seseorang lebih dulu menghadang langkah mereka.
Brukk!
Tubuh Lucy dan Aland terhempas jauh saat seorang agen LGE datang dan menyerangnya tanpa aba-aba.
Lucy dan Aland terpental sangat jauh dari posisi semula mereka berada.
"Arghh…" Lucy dan Aland meringis kesakitan saat tubuh mereka bergesekan secara kasar dengan lantai bersemen yang mereka pijak.
"Ternyata selama ini kau di sini? Pintar juga ternyata kau melarikan diri dari kejaran kami," ujar lelaki yang berdiri tak jauh di sana.
...***...