
...***...
"Aku sudah mengecek kondisinya, dan dia baik-baik saja."
"Sungguh?"
Amanda mengangguk pelan sebagai jawaban.
"Syukurlah." Joe tersenyum lega. Ia benar-benar merasa tenang sekarang, setelah tahu kalau Derek baik-baik saja.
Ia menghampiri adiknya yang masih belum sadarkan diri di sana.
"Terima kasih karena sudah bertahan untukku, Derek… terima kasih." Joe menangis bahagia.
Joe menoleh pada Amanda yang berdiri sambil tersenyum memperhatikan mereka.
"Kau bilang dia baik-baik saja, tapi kenapa dia belum sadar juga?" tanya Joe.
"Kondisinya memang sudah stabil. Dan itu artinya, dia akan segera sadar. Kau hanya perlu menunggunya sebentar lagi."
"Baiklah. Terima kasih."
"Bukan masalah. Omong-omong aku akan mengecekmu, tampaknya kau juga terluka cukup parah." Amanda menghampiri Joe dan memintanya untuk duduk agar bisa dia periksa.
...*...
Dorothy diam termangu di ruangannya. Entah apa yang tengah dilamunkan oleh wanita tua itu.
Namun yang pasti, kedua matanya berkaca-kaca tanpa sebab.
Krieett…
Luna membuka pintu kayu ruangannya. Membuat fokus Dorothy seketika tersita oleh kedatangannya.
Luna menutup pintunya rapat-rapat dan segera menghampiri wanita yang sudah dianggapnya seperti ibu sendiri itu.
"Ada yang kutanyakan padamu," katanya dengan air muka sebal.
"Apa?" Dorothy beradu tatap dengan wanita muda yang berdiri dihadapannya itu.
"Apa yang sebenarnya kau pikirkan? Kenapa kau mau membantu mereka berdua, padahal sudah jelas-jelas mereka adalah penjaga yang dulu menghancurkan desa kita. Terutama pria yang tadi memelas padamu!" protes Luna.
Dia masih tidak bisa menerima keputusan yang diambil Dorothy untuk membantu Joe dan Derek.
"Tapi dia yang dulu sudah membuat desa kita hancur! Dia juga yang dulu sudah membahayakan nyawamu!"
Brukk!
Tubuh Luna ambruk dihadapan Dorothy. Kedua matanya berkaca-kaca, dan suaranya bergetar.
Ia masih ingat betul kejadian di masa lalu. Kejadian ketika dirinya harus berpisah dengan Dorothy yang mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan penduduk desa yang lain.
"Tidakkah kau peduli padaku? Apakah kau tidak tahu betapa cemasnya aku dulu saat kukira kau sudah meninggal?" Luna terisak.
Dorothy hanya diam sambil menatapnya sendu. Ia tahu, Luna hanya sedang resah karena dulu pernah menganggap dirinya mati.
"Aku benar-benar cemas mereka menghancurkan desa kita lagi. Aku benar-benar cemas, apa yang dulu terjadi akan terulang kembali," lirihnya.
Luna menyandarkan kepalanya dipangkuan Dorothy dan mulai menangis di sana.
"Aku tidak ingin kehilanganmu…"
"…Aku tidak ingin berpisah denganmu lagi…"
"…Kau sudah kuanggap sebagai ibuku sendiri. Dan kalau sampai terjadi sesuatu padamu, aku tidak akan bisa menerimanya," ujarnya.
Dorothy tersenyum tipis.
Tangannya terangkat dan mulai mengusap surai panjang Luna penuh kelembutan.
"Aku tahu kau cemas dan takut kehilanganku," gumam Dorothy mulai angkat suara.
"…Tapi jangan jadikan ketakutanmu itu sebagai alasan untuk tidak membantu orang yang membutuhkan bantuan kita…"
"…Bagaimanapun, dia benar-benar membutuhkan bantuan kita…"
"…Apakah kau tidak lihat bagaimana dia berusaha keras untuk menyelamatkan adiknya?"
Luna mendongak. Tatap sang empu yang bertutur padanya.
"Tapi bagaimana kalau dia membohongi kita? Bagaimana kalau dia pada akhirnya melakukan apa yang dulu dia lakukan pada kita?" resahnya.
"Itu tidak akan terjadi. Aku yakin, Joe sudah berubah."
"Darimana kau bisa tahu?"
...***...