
...***...
Calvin dan Jack menoleh pada William yang entah kenapa mulai diam dan memperhatikan seorang gadis yang duduk di dekat taman sembari mendengarkan musik lewat earphone-nya.
"Will!" Calvin mengguncang pundaknya hingga membuat William seketika tersadar dari lamunannya.
"Huh? Ada apa?" Kagetnya. William menatap pada kedua temannya bergantian.
"Kau memperhatikan gadis itu nyaris tanpa berkedip, apakah kau menyukainya?" Jack menatap William dengan memainkan kedua alisnya naik turun.
"S… suka? Tidak, aku tidak suka dengannya."
"Benarkah? Lalu kenapa kau memperhatikan dia? Lagipula aku lihat dia cantik, kenapa kau harus mengelak?"
"Aku hanya melihatnya karena kita bertemu dengannya beberapa waktu lalu."
"Dimana?"
"Ruang UKS. Kalian ingat saat kejadian aku ke ruang UKS 'kan? Di saat itu, aku bertemu dengannya. Dia bahkan membantu merawat luka-lukaku."
"Oh, aku ingat. Jadi kalian bertemu saat itu?"
"Ya. Tapi aku tidak tahu siapa namanya," gumam William yang kembali mengalihkan pandangannya pada gadis itu.
"Aku ingin tahu namanya, dan aku ingin membalas kebaikannya," lirihnya lagi sambil tersenyum.
"Kalau kau tahu siapa namanya, apakah kau akan mengajaknya makan bersama setelah itu mengajaknya berkencan?"
"Ya," ucap William tanpa sadar. "Tunggu, apa?!" Kejutnya. Ia tidak sadar dengan apa yang baru saja diucapkannya.
"Hahaha, sudah aku bilang kau suka dengannya!" Jack tertawa renyah menanggapi William yang mengaku tanpa sadar itu.
"Sepertinya… kau benar. Akhir-akhir ini aku memang selalu memikirkan dia," ucap William pelan.
"Kalau begitu jangan diam saja. Kenalan dengannya dan ajak dia untuk berkencan, siapa tau kalian berakhir pacaran."
"Tunggu, kalau tidak salah aku kenal dengan gadis itu!" Calvin yang sejak tadi diam dan memperhatikan gadis yang sedang mereka bicarakan, akhirnya angkat bicara.
"Benarkah? Kau kenal darimana?" William mengalihkan pandangannya pada Calvin.
"Ya. Dia adalah putri dari salah seorang pebisnis yang baru saja bangkrut. Orang tuanya jatuh miskin dan memiliki banyak sekali utang. Lalu untuk melunasi utang mereka, dia dipaksa dijodohkan dengan salah satu putra dari kolega ayahnya. Kalau tidak salah, lelaki yang dijodohkan dengannya juga bersekolah di sini."
"Di jodohkan?" William mengulang kata itu, ia mengerutkan kening. Mengingat-ingat kembali mengenai pertengkaran gadis itu dengan lelaki yang terjadi beberapa waktu lalu di ruang UKS.
Kalau tidak salah, memang benar. Dia berpacaran dengan lelaki itu hanya karena terpaksa, batinnya.
"Darimana kau tahu semua itu?" Jack bertanya.
"Ayahku," ujar Calvin sembari meneguk minumannya.
"Kau tahu siapa namanya?" William menoleh pada Calvin.
"Namanya? Sebentar, kalau tidak salah namanya… Cla… Claretta! Ya, namanya adalah Claretta." Calvin akhirnya berhasil mengingat namanya.
"Claretta," gumam William sembari menoleh ke arah gadis yang sedang mereka bicarakan.
Nama yang indah, pikirnya. Atensinya seketika di sita oleh kedatangan seorang lelaki yang di lihatnya menghampiri Claretta di sana.
"Nah, itu dia lelaki yang di jodohkan dengannya!" Calvin menunjuk lelaki yang baru saja tiba dihadapan Claretta.
Jack menoleh ke arah lelaki yang di maksudnya.
"Oh, aku tahu dia. Kalau tidak salah dua adalah anak dari salah seorang pengusaha terkenal itu 'kan?" Jack menanggapi.
"Ya. Dia yang di jodohkan dengan Claretta." Calvin menimpali.
...***...