
...***...
"Jangan coba-coba untuk melarikan diri," gumam Leon dengan wajah yang posisi berada begitu dekat dengan Elvina. Keduanya beradu pandang. Menatap manik matanya masing-masing.
Wajah Elvina berubah merah. Posisi mereka begitu berdekatan satu sama lain, dan nyaris bersentuhan. Dalam jarak sedekat ini, Elvina merasa Leon terlihat lebih tampan. Selain itu, Leon memiliki aroma tubuh yang begitu khas yang cukup membuatnya nyaman.
Elvina terdiam. Mendadak jantungnya berdebar tak karuan.
Entah kenapa, tapi dalam jarak sedekat ini… si tukang perintah terlihat begitu tampan. Matanya juga begitu indah. Tunggu, apa? Elvina menggelengkan kepalanya cepat, ia segera memalingkan wajahnya ke arah lain.
Apa yang aku pikirkan? Kenapa bisa-bisanya aku menyebutnya tampan? Pria menyebalkan sepertinya sama sekali tidak pantas menyandang sebutan seperti itu, batin Elvina. Ia berusaha menepis segala ucapan yang semula, ia pikirkan.
"Apa yang sebenarnya kau sembunyikan? Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku?" Leon menanyakan kembali pertanyaannya.
"Kenapa kau…"
"Saya benar-benar minta maaf, pak…" Elvina memotong cepat. "…pesanan yang bapak minta tidak sengaja tumpah saat saya jatuh."
"Jatuh? Kau terluka separah ini, hanya karena jatuh?"
"Eh?" Elvina terkejut sendiri dengan kalimat yang terlontar dari mulutnya. "A… ah, ya." Elvina mengangguk pelan.
"Bagaimana bisa? Kau terjatuh dimana sampai separah ini?"
"Itu…"
"Elvina!"
Fokus pandangan Leon dan Elvina refleks beralih pada arah datangnya suara. Dari arah parkiran, mereka melihat Rei yang berdiri di dekat motornya dengan membawa makanan yang di minta Leon.
Leon melirik Elvina yang dalam sekejap merekahkan senyumannya ketika melihat Rei yang baru saja tiba. Wajahnya berubah kesal melihatnya.
"Terima kasih, Rei."
"Tidak masalah. Maaf, kalau aku agak lama. Coffee shop-nya penuh."
"Aku mengerti."
Leon menatap Rei dengan raut wajah tak bersahabat. Dalam hatinya, ia berkata, siapa laki-laki ini? Kenapa Elvina tampak sangat akrab dengannya? Apakah jangan-jangan dia pacarnya?
Leon menatap Rei dari atas sampai bawah, menilai penampilannya saja berhasil membuat Leon cemburu.
Wajahnya memang cukup tampan. Tapi, jika dibandingkan denganku, jelas aku yang lebih tampan, pikirnya. Ia kemudian melirik ke arah tempat parkir. Ia menatap motor Rei yang terparkir di sana.
Apakah Elvina menyukai pria bermotor? Apakah dia pikir melihat pria bermotor lebih keren daripada pria dengan mobil sepertiku? Apa sebaiknya besok aku beli motor? batinnya.
"Pak, ini pesanan yang anda minta." Elvina menyodorkan kopi dan camilan di tangannya. Leon mendelik ke arahnya.
"Aku sudah tidak berselera! Kau minum saja dengan pacarmu!" ketus Leon yang dengan raut wajah kesal langsung melangkah pergi meninggalkan Elvina dan Rei di sana.
"L… lho, tapi, pak! Pak!" teriak Elvina memanggilnya, berusaha membuat lelaki itu, berhenti. Leon terus berjalan tanpa menghiraukan teriakan Elvina.
Ada apa dengannya, hari ini dia benar-benar bersikap aneh. Elvina menaikkan sebelah alisnya bingung.
"Dia salah paham tentang kita," gumam Rei. Elvina menoleh ke arahnya, ia semakin bingung.
"Maksudmu? Kenapa bisa?"
"Aku mendengar isi pikirannya, dia pikir aku adalah pacarmu."
Elvina menghela napas panjang. "Padahal aku ingin memperkenalkan bahwa kau adalah sepupuku. Tapi, kenapa dia berpikir demikian?"
...***...