Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 114 - Melinda



...***...


Tap!


Ia menghentikan langkah kakinya ketika kedua manik mata indahnya secara tidak sengaja menangkap sosok pria tampan yang melangkah dari arah yang berlawanan darinya.


Ia berhenti tepat dihadapannya. Jarak mereka tidak terlalu jauh satu sama lain, bahkan bisa dibilang berdekatan. Hanya satu gerakan lagi, mereka dapat bersentuhan.


"Hai," sapanya pada lelaki itu.


Pria berpakaian serba putih itu beralih fokus dari telecosysnya. Mendongak padanya dengan tatapan datar.


"Melinda?" gumam lelaki itu pelan. Ia tampak tertegun dengan kemunculannya yang tiba-tiba.


"Lama tak jumpa." Suara manja seakan menjadi nada khas yang tak bisa lepas darinya. Melinda menepuk kedua pundak lelaki bernama Azura itu, fokus matanya tertuju pada manik mata indah lelaki tampan itu.


"Ya, memang sudah lama kita tidak bertemu. Kau mau kemana?"


"Aku akan untuk menemui profesor. Beliau memintaku datang ke ruangannya, katanya ada yang harus dia sampaikan padaku."


"Profesor? Apakah kau mendapatkan misi darinya?"


"Ya, sepertinya. Tapi aku harap begitu, karena aku ingin sekali pergi menjelajahi dunia luar."


Azura mengulum senyum, pria itu mendadak diam tanpa bersuara. Dalam batinnya Azura berkata, Kalau profesor meminta Melinda untuk datang ke ruangannya, bukankah itu berarti Joe sudah tidak mampu menjalankan misinya? Ini bagus, dengan begitu aku akan lebih mudah untuk mendapatkan kepercayaan dari profesor dan tuan, lalu secara perlahan-lahan menyingkirkan Joe dari posisinya.


"Kau sedang memikirkan apa?" Melinda menyeretnya keluar dari lamunannya.



"Kau yakin tidak ada yang kau pikirkan?" Melinda menyipitkan matanya, menatap penuh selidik kearahnya. Sebelah sudut bibirnya terangkat membentuk smirk.


"Ya, memang tidak ada yang aku pikirkan," ucapnya tenang.


Melinda menatapnya lekat. Tangannya bergerak menarik dasi yang dikenakannya sampai membuat tubuh Azura sedikit membungkuk dengan posisi kepala yang berada sejajar dengan wajahnya.


Azura beradu tatap dengannya dalam jarak yang begitu dekat. "Kalau begitu, bolehkah nanti aku bermain ke tempatmu? Mari habiskan malam bersama," bisiknya menggoda.


"Tentu, mengapa tidak?" Tanpa pikir panjang Azura menyetujui.


"Terima kasih," tuturnya. Fokus mata Melinda lantas beralih pada bibir lelaki itu. Perlahan ia menarik kepala Azura semakin dekat ke arahnya lantas mendaratkan sebuah kecupan singkat di sana. Tak lama, mereka kembali beradu pandang. Bagi Melinda kecupan itu tak terasa apa-apa, dirinya menginginkan lebih dari sekedar sebuah kecupan.


Melinda menarik tengkuknya, kembali menyambar bibir pria itu untuk kedua kalinya. Namun kali ini Melinda berusaha mendapatkan timbal balik darinya.


Lidahnya perlahan menerobos masuk diantara bibir lembutnya, melewati gigi Azura dan beradu dengan lidahnya. Ia memainkan pemain liar di dalam sana, me**mat bibirnya penuh nafsu hingga ia dapat merasakan Azura mulai mengimbangi permainannya. Pria itu memberikan respon sesuai harapannya.


Tangan Melinda mulai bergerak meraba tubuhnya, menciptakan rang**ngan yang mampu membuat libidonya naik dalam sekejap.


Untuk waktu yang cukup lama mereka menikmati permainan masing-masing sampai keduanya nyaris kehabisan oksigen.


Azura membuka kedua matanya setelah tanpa sadar terhanyut dalam permainan mereka. Ia melepaskan pagutannya, mengelap benang saliva yang membasahi bibirnya.


Melinda dapat melihat Azura benar-benar menikmati permainannya. Wajah lelaki itu bahkan berubah merah dibuatnya.


"Argh, bertemu denganmu menghambat pekerjaanku," gerutunya dengan wajah bersemu. Ia membenahi posisinya, kembali berdiri tegap seperti sebelumnya. Melinda terkekeh menanggapinya.


...***...