Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 256 - Jatuh cinta



...***...


"Elvina!" Linda mengguncang lengan sahabatnya itu. Elvina spontan tersadar dari lamunannya.


"Huh? Kenapa?"


"Sejak tadi kau terus melamun, ada apa? Apa yang kau pikirkan?"


"T… tidak ada. Aku tidak memikirkan apa-apa." Elvina menggelengkan kepalanya pelan. Ia mengalihkan pandangan kembali pada makanan yang sedang ia nikmati.


Linda menghela napas pelan lalu melahap makanannya. Ia berusaha menghiraukan tingkah aneh sahabatnya itu.


Selanjutnya hening. Tidak ada sepatah katapun yang terlontar dari bibir mereka masing-masing, keduanya hanya diam dan fokus pada makannya.


Elvina kembali melamun. Entah kenapa akhir-akhir ini, sosok Leon lebih sering muncul dalam benaknya. Bersamaan dengan itu, wajahnya selalu merona dengan jantungnya yang berdebar. Sepertinya ada yang salah dengan dirinya.


Kenapa aku terus memikirkan dia? Apakah aku sudah kehilangan akal? Elvina menggelengkan kepalanya kuat berusaha menendang sosoknya dari pikiran.


"Hari Minggu. Ayo jalan berdua saat hari Minggu! Kita saling mengenal lebih jauh agar kau bisa menemukan jawabannya."


Kalimat itu tiba-tiba terlintas dibenaknya. Elvina baru ingat kalau dalam beberapa hari lagi adalah akhir pekan, dan ia memiliki acara untuk pergi dengan Leon.


Bagaimana mungkin jalan dengannya seharian akan membuatku tahu jawabannya? Elvina menundukkan kepalanya. Ia menghela napas berat, Leon sungguh telah mengobrak-abrik perasaannya.


"Kan! Kau lagi-lagi melamun! Apa yang sebenarnya kau pikirkan!" Linda memekik membuatnya beralih fokus. Tangan wanita itu tepat berada di depan wajahnya.



"Kalau kau ada masalah cepat katakan padaku! Dengan begitu kau tidak terlalu terbebani," kata Linda bersungut-sungut. Ia kesal kalau sahabatnya sendiri mulai menyembunyikan sesuatu darinya.


Elvina diam sejenak, ia tampak menimbang-nimbang apakah ia harus menjelaskan situasinya atau tidak.


"Sebenarnya tidak ada masalah apa-apa." Elvina mulai angkat bicara.


"Hm… begini. Aku punya teman, dan dia bilang kalau ada seorang lelaki yang menyatakan perasaannya pada dia. Tapi dia masih bingung harus menjawab apa, karena dia tidak tahu dengan perasaannya sendiri." Elvina mengambil jeda sejenak.


"Itu terdengar seperti ceritamu!" Linda berkomentar. Wajah Elvina memanas dalam seketika.


"E… enak saja! Sudah kukatakan kalau aku sedang membicarakan temanku!"


"Memangnya kau memiliki teman lain selain aku?" Linda meraih gelasnya lalu meneguk isinya hingga tersisa sepertiga.


"T… tentu saja aku punya!" Elvina terbata.


"Baiklah, aku percaya." Linda menjawab. "Walaupun sebenarnya tidak," bisiknya pelan.


"Lalu, kenapa?" Linda kembali mengalihkan topik.


"Begini, akhir-akhir ini dia bilang kalau dia selalu memikirkan lelaki itu, dan setiap kali memikirkannya, jantungnya selalu berdebar, apakah kau tahu itu artinya apa?"


Linda menjauhkan minumannya, ia tersenyum seraya melipat kedua tangannya rapi di atas meja.


"Astaga, begitu saja kau tidak tahu? Tentu saja temanmu itu menyukainya!"


"B… benarkah?" Wajah Elvina merona.


"Tentu saja! Kalau seseorang sedang jatuh cinta, dia akan terus kepikiran lelaki itu, dia tidak ingin jauh-jauh darinya, dan setiap kali bertemu atau memikirkannya, jantungnya akan berdebar tak karuan. Aku juga dulu begitu saat Roby pertama kali menyatakan perasaannya padaku." Linda tersenyum mengingat kembali masa-masa sebelum akhirnya dirinya resmi berpacaran dengan Roby.


"B… begitu rupanya." Elvina menundukkan kepalanya menyembunyikan wajahnya yang semakin panas.


"Omong-omong siapa yang kau sukai? Apakah si tukang perintah kesayanganmu itu?" Linda menggoda sahabatnya. Elvina tersentak.


...***...