Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 200 - Kau ini kenapa?



...***...


"Kalau begitu bagaimana kalau kita pergi bersama? Kebetulan aku juga sudah selesai?" Heru membereskan alat tulisnya ke dalam tas.


"Ide yang bagus, sekalian kita bisa sedikit berdiskusi dan mengobrol di sana… aww." Gloria meringis kesakitan saat Lusia tiba-tiba mencubit pinggangnya.



Ia melirik gadis itu. Lusia melotot ke arahnya dengan mulut komat-kamit, entah berbicara apa.


"Lebih baik kau pergi saja dengan kak… maksudku, Rei. Aku tidak nyaman kalau kau ikut bergabung," tolak Lusia.


"Huh? Benarkah?" Heru menghentikan kegiatannya.


"Oh, ayolah. Akan menyenangkan kalau kita duduk dan mengobrol berempat, lagipula kalau kita terus makan berdua, orang-orang bisa salah paham. Bagaimana kalau mereka mengira kita ini pasangan lesb*? Aku tidak ingin membuat semua lelaki di sekolah ini menjauhiku, bisa-bisa aku tidak mendapatkan pacar selamanya. Lagipula kau menolak mengajak mereka bukan karena tidak nyaman, 'kan? Tapi karena ada kak… maksudku, Rei, 'kan?" Gloria tidak terbiasa harus menyebut Rei dengan mananya tanpa embel-embel 'kak' di depannya. Dua tahun menjadi kakak kelasnya saat SMP membuatnya terbiasa menyebutnya, kak.


"Apa? Enak saja kalau kau bicarakan!" Wajah Lusia memanas mendengar celotehan sahabatnya.


"Memangnya ada apa dengan Rei? Apakah menjadi masalah kalau dia bergabung dengan kalian?" Heru menatapnya penuh tanya.


"Itu karena Lusia pernah… hmph…"


"Mulutmu perlu aku lakban!" gerutu Lusia kesal. Ia membekap mulut sahabatnya itu cepat sebelum ia kembali melontarkan kalimat yang terus mengungkit-ungkit masa lalunya.


"Kau ini kenapa? Apa yang kalian sembunyikan?" Heru tak mengerti dengan tingkah aneh mereka berdua.


"Tidak ada. Kalau kalian mau bergabung, ayo bergabung saja. Kita sambil mengobrol bersama mengenai tugas kita," ujar Lusia tiba-tiba berubah pikiran.


"Tapi bukankah kau bilang tadi kau tidak nyaman kalau ada aku dan Rei?"


"Kau ini banyak omong! Kalau kau mau makan bersama, ayo pergi dan jangan berbicara. Kau terus saja bertanya padahal aku sudah mengizinkanmu bergabung!" Lusia emosi.


"Cepatlah, aku benar-benar lapar!" Lusia menarik Gloria masih dengan posisi yang sama.


Heru beranjak dari tempatnya. Ia sudah tiba di ambang pintu sebelum kemudian berhenti saat menyadari Rei yang bergeming di tempatnya.


"Rei, apa yang kau lakukan? Ayo pergi! Kita makan siang bersama dengan mereka," tutur Heru.


Rei mengubah posisinya. Ia meraih bukunya yang baru saja diberikan Heru.


"Aku tidak ikut. Kalian saja," balas Rei.


"Kenapa? Apakah kau tersinggung dengan ucapan Lusia tadi?"


"Bukan, aku hanya sedang tidak berselera untuk makan. Jadi kalian pergilah tanpa aku."


"Kau yakin?"


"Yakin, dan oh ya, aku akan menunggu kalian di perpustakaan. Aku akan mencari bahan-bahan untuk tugas kita duluan, kalau sudah selesai kalian datanglah."


"Okay, kalau begitu aku duluan," pamit Heru. Pria itu berlalu meninggalkan Rei seorang diri di dalam ruang kelasnya.


Rei terdiam sejenak, ia memasukkan buku dalam genggamannya ke dalam tas sebelum kemudian beranjak meninggalkan ruang kelasnya untuk pergi ke perpustakaan dan mencari bahan untuk tugas bahasa Inggris yang telah diberikan oleh gurunya.


Rei terus melangkah, ia sempat berjalan melewati gedung dimana kelas sebelas berada.


Rei melintas di salah satu kelas dan tak sengaja bertemu dengan seseorang.


...***...