Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 260 - Permintaan



...***...


Sorak-sorai terdengar menginterupsi seisi ruangan. Orang-orang berteriak senang kala Rei berhasil memenangkan pertandingannya. Mereka semua segera berlari menghampiri Rei yang sudah tiba lebih dulu, sementara itu Lusia harus terus bergerak menuju tepi. Gerakannya terlihat lebih lambat dari sebelumnya.


Gloria menghampiri tepi kolam, ia berjongkok di depan Lusia yang tampak kesulitan untuk bergerak.


"Kau kenapa?" tanya Gloria yang melihat gerak-gerik tak biasa dari sahabatnya.


"Kakiku kram, bisa kau bantu aku keluar?" lirihnya.


"Astaga, ayo aku bantu." Gloria menarik Heru dan memintanya untuk membantu menarik Lusia keluar dari dalam kolam.


Gloria segera bergerak mengambil handuk guna menutupi tubuh sahabatnya yang basah. Lusia terduduk di bibir kolam sementara Rei masih merayakan keberhasilannya.


Rei beralih fokus saat melihat Lusia telah keluar dari dalam kolam. Lelaki itu menghampiri Lusia dan berdiri sekitar satu meter dari arahnya.


Lusia memaksakan diri untuk berdiri walau tahu kakinya sakit. Ia menghadap ke arah Rei, menatapnya dengan tatapan tak bersahabat. Kesal? Tentu saja. Karena kesempatannya untuk membuat Rei jauh seketika pupus begitu saja hanya karena kram pada kakinya yang datang secara tiba-tiba.


Kenapa harus sekarang?! Benar-benar menyebalkan! pikir Lusia saat ia harus dihadapkan dengan kaki kram di tengah pertandingannya dengan Rei.


"Sesuai kesepakatan kita. Karena aku memang, maka kau harus mengabulkan satu permintaanku."


"Okay, katakan apa maumu," sahut Lusia ketus.


"Jadilah kekasihku."


"Hah?!" Semua orang berucap tersentak. Ekspresi terkejut tampak menghiasi wajah mereka, semua orang tak percaya dengan apa yang baru saja terlontar dari mulut Rei.



"A… apa?" Lusia terbata. Sungguh, pasti ada air yang masuk ke gendang telinganya! Lusia tidak percaya kalau Rei benar-benar mengatakan hal itu.


Mata mereka semua membulat sempurna dengan mulut yang kini terbuka. Semua orang speechless, termasuk Lusia yang juga tak menyangka dengan ucapan Rei.


Lusia salah tingkah. Baru saja mulutnya ingin mengucapkan sesuatu, secara tiba-tiba tanpa peringatan lebih dulu, sebuah bola yang berasal dari pintu masuk, mendadak melayang dan tepat mengenai kepalanya.


Lusia yang dalam keadaan kaki kram kehilangan keseimbangan hingga tubuhnya tercebur masuk ke dalam kolam.


"Lusia!" Gloria berteriak cemas. Begitu juga semua orang yang melihat.


"Rei bantu dia! Lusia kakinya kram!" Panik Gloria.


Rei tanpa pikir panjang langsung melompat ke dalam air begitu mendengar ucapan Gloria.


Tubuh gadis itu jatuh hingga ke dasar kolam, beruntung Rei dengan mudah menangkap tubuhnya dan membawanya menuju permukaan.


Tiba di atas, Rei segera membaringkan tubuh Lusia di lantai. Gadis itu sudah dalam keadaan tak sadarkan diri sebab tanpa sengaja menelan beberapa air dan kehabisan napas sebelum ia sempat mengambil ancang-ancang.


"Lusia bangun!" Rei menepuk-nepuk wajahnya pelan. Gadis itu sama sekali tak merespon.


Rei bergerak cepat, menggerakkan tangannya memompa dada gadis itu berharap air di dalam tubuhnya keluar.


"Berikan dia napas buatan!" pekik Gloria yang semakin panik kala melihat Lusia tak kunjung sadarkan diri.


Rei segera bergerak melakukan apa yang diperintahkan Gloria, memberikan napas buatan untuk Lusia.


Tak lama, Lusia mulai merespon. Ia mengeluarkan air dalam tubuhnya.


...***...