
...***...
Lucy cukup terkejut karena ternyata evolver mudah untuk dia kalahkan. Terlebih dari yang dia amati sejak tadi, ternyata para evolver sama sekali tidak memiliki kekuatan perlindungan seperti evolver lain. Karena sesungguhnya, mereka memang hanya memiliki kemampuan yang berhubungan dengan otak mereka, dan sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk melindungi diri.
Dorr! Dorr!
Lucy kembali menembak hingga membuat beberapa evolab tertembak dan jatuh dari posisi mereka. Martin semakin panik, terlebih begitu dia menoleh Lucy sudah semakin mendekat ke arahnya.
"Aku tidak akan membiarkanmu lolos lagi kali ini!" Lucy menatap pria itu dengan napas terengah-engah.
Martin kian panik. Lelaki itu menoleh ke arah monitornya dan mempercepat prosesnya menjadi berada di kecepatan maksimal. Para evolab yang tadi tertembak berusaha untuk bangkit dan menyerang Lucy guna melindungi Martin. Lagi-lagi Lucy jadi harus berhadapan dengan para evolab itu.
Di saat fokus Lucy tertuju pada para evolab yang terus menyerangnya, Martin memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mencari cara agar prosesnya bisa lebih cepat. Dia terus mengotak-atik monitornya hingga tanpa sadar Lusia di dalam sana mulai bergerak-gerak karena tekanan yang masuk pada tubuhnya dari proses pengaktifan. Cairan di dalam tabung yang ada itu pun mulai bergelembung sampai-sampai membuat isi di dalamnya terlihat seperti sebuah air yang mendidih dalam panci.
"LIANA!"
Rei mendadak muncul. Pria itu segera berlari masuk ke dalam sana. Tapi begitu dia melangkah, dia langsung melihat sosok Lusia yang ada di dalam tabung. Rei mendadak berhenti dan menatap ke arah tabung dengan wajah terkejut. Otaknya berusaha untuk memproses apa yang dilihatnya. Orang yang dicintainya berada di dalam sana. Terikat di dalam tabung dengan keadaan tubuh melayang dalam sebuah cairan.
Martin meringis menahan sakit saat tubuhnya menabrak dinding dengan begitu kasar. Sementara hal itu juga membuat Lucy spontan beralih fokus ke arah Martin dengan terkejut.
Brukk!
Evolab yang melawannya sekali lagi berhasil dia kalahkan. Lucy menoleh ke arah Rei yang kini tampak begitu marah mencoba mendekat ke arah Martin di sana. "Rei!"
Lucy berlari menghampiri lelaki itu, berusaha untuk menghentikannya. Bagaimanapun urusan Lucy dan Martin belum selesai. Dia tidak mungkin membiarkan Rei sampai membuat musuhnya mati terbunuh di tangannya. Bagaimanapun, harus Lucy yang menuntaskan lelaki itu.
"Aku tidak akan memaafkanmu atas apa yang telah kau lakukan padanya!" Rei menggerakkan tangannya, membuat Martin seketika terlempar ke arah lain. Belum sempat pria itu bangkit, Rei sudah bersiap untuk kembali menyerangnya. Namun Lucy yang menyadari hal itu bergegas mencoba menghentikannya.
"Rei, tunggu!" Lucy memegangi tangan lelaki itu hingga membuatnya berhenti. "Serahkan dia padaku. Ingat, tujuanmu sejak awal datang ke sini adalah untuk menyelamatkan kekasihmu kan?"
"Tapi aku tidak mungkin membiarkannya begitu saja. Dia sudah menculik Lusia dan kini lihat apa yang dia lakukan."
"Aku mengerti. Tapi serahkan semuanya padaku!"
...***...