
...***...
Di tengah usahanya membebaskan diri, secara tiba-tiba dua orang lelaki melangkah masuk ke dalam ruangan tempatnya berada.
Rei tidak menyadari hal itu, tapi ekspresinya mendadak berubah ketika dia melihat Arleta berbisik sambil tersenyum penuh arti ke arahnya.
"Aku sudah memperingatkanmu," bisiknya.
Rei beralih fokus pada dua lelaki yang kini berdiri di sisi kiri dan kanan wanita itu. Dua lelaki itu adalah penjaga yang dimaksud oleh Arleta barusan.
"Lepaskan aku!" teriak Rei sambil kembali memberontak.
Arleta melangkah secara perlahan. Ia kemudian berbalik dan melangkah pergi tanpa menghiraukan Rei yang kini terus berteriak padanya.
"Jangan pergi! Lepaskan aku?!" teriaknya sambil bangkit. Rei berusaha mengejar wanita itu, sialnya tubuhnya terikat dan dia sama sekali tidak bisa bergerak.
"Argh…" Rei meringis menahan sakit. Tubuhnya tak bisa berbuat banyak karena berada dalam keadaan terikat.
Tak lama tanpa aba-aba, dua lelaki dihadapannya bergerak memegangi tubuh Rei dan mereka melepaskan setiap rantai yang mengikat tubuhnya.
"Apa yang kalian lakukan?" Rei mulai panik, ada yang tidak beres. Mereka memeganginya dengan sangat kuat, tapi dalam waktu bersamaan, mereka juga melepaskan ikatan pada tubuhnya.
Setelah tubuhnya lepas dari belenggu, Rei di gandeng oleh kedua penjaga itu dan di tarik keluar ruangan. Ia di seret dengan sedikit kasar sampai membuat Rei tak bisa berbuat banyak.
"Lepaskan aku! Kalian mau membawaku kemana?!" teriak Rei lagi sambil berusaha menahan tubuhnya agar tidak terseret mereka.
"Diam!" Salah satu lelaki itu membentaknya dengan kasar.
Rei di seret menyusuri lorong hingga akhirnya dia tiba di sebuah ruangan yang tampak mirip seperti kamar mandi umum dengan beberapa bilik kosong di dalamnya.
"Apa yang mau kalian lakukan padaku? Lepaskan aku!" Rei kembali memberontak.
"Diam!" Lelaki tadi kembali membentaknya dengan kasar. Mereka memegangi Rei dengan sekuat tenaga dan mendorong punggungnya agar tubuh Rei membungkuk.
Rei mau tak mau berlutut, masih dengan posisi kedua tangan yang dipegangi oleh mereka.
Tepat dihadapannya, Rei melihat air kolam yang isinya memenuhi hampir sampai setara dengan bibir kolam.
Salah satu lelaki menjambak rambutnya dengan kasar.
"Dengar! Ini adalah hukuman karena kau tidak bisa diam," katanya dengan penuh penekanan.
"Lepaskan aku!" Rei kembali memberontak sekuat tenaga. Kali ini lebih kuat lagi, sampai-sampai membuat mereka cukup kewalahan.
"Dia sepertinya harus diberikan pelajaran lebih dulu!" ujar lelaki lain dengan wajah kesal.
"Ide bagus. Ayo bermain dengannya sebentar!" Lelaki yang menjambak rambutnya tadi menjawab.
Keduanya kembali menarik tubuh Rei untuk bangun, mereka membawa Rei sedikit menjauh dari bibir kolam.
"Apa yang akan kalian lakukan?!" Rei terus meronta. Sejak tadi hanya kalimat itu yang mampu keluar dari mulutnya selain memberontak.
"Biar aku lebih dulu." Salah satu lelaki itu melepaskan tangan Rei. Tapi dengan segera lelaki yang lainnya memegangi tangan tersebut dan menahannya ke belakang.
Kini posisi lelaki itu berada di belakang Rei, memegangi kedua tangannya. Sementara yang lainnya kini berdiri dihadapan Rei dengan posisi bersiap.
"Kau sepertinya tidak akan bisa diam sebelum kami memberikanmu pelajaran berharga," katanya.
...***...