
...***...
"Ya, aku Liana." Lucy tersenyum simpul.
Leon tersenyum senang, ia menghampiri Lucy dan memeluknya erat. Kebahagiaannya tak bisa dibendungnya.
"Aku tidak percaya ini, aku bisa bertemu denganmu lagi," gumam Leon.
Lucy masih tersenyum simpul. Ia balas memeluk Leon erat, saling melepaskan rindu masing-masing. Sudah bertahun-tahun mereka tak bertemu, bahkan pertemuan terakhir mereka adalah pada usianya yang menginjak ke delapan tahun. Dan saat itu pertemuan sekaligus perpisahan mereka terjadi di Paris, saat kakek dan nenek mereka masih hidup.
Lucy dan Leon nyaris menangis saking senangnya bisa bertemu lagi. Hal yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Sementara keduanya berpelukan, beda halnya dengan orang-orang yang sejak tadi berdiri di luar ruangannya.
Mereka tampak terkejut saat melihat Leon dan Lucy berpelukan di dalam ruangan yang hanya berbalutkan dinding kaca itu.
"Ada apa itu?"
"Pak Leon kenal dengannya?"
"Siapa dia?"
"Mereka tampak akrab?"
"Apakah mereka adalah kekasih?"
Bisikan demi bisikan mulai terdengar mengisi seluruh ruangan. Elvina dan Linda yang sejak tadi turut melihat kejadian itu hanya bisa diam tanpa kata.
Keduanya speechless saat melihat Leon tiba-tiba memeluk wanita itu.
"Astaga, apa itu tadi? Mereka saling kenal? Aku kira mereka tidak kenal satu sama lain, tapi tampaknya dugaanku salah. Lihat, mereka bahkan berpelukan. Sepertinya mereka memang benar-benar akrab," komentar Linda di samping Elvina.
"El, apakah menurutmu mereka berpacaran?" Linda menyikut lengan Elvina.
Kedua mata Elvina terasa memanas, dadanya benar-benar sesak melihat mereka seperti itu.
Aku tidak kuat, batinnya. Elvina berbalik dan melangkah pergi tanpa bicara apa-apa.
Linda tertegun ketika menoleh, ternyata Elvina raib dari sisinya.
"Aish, sejak tadi ternyata aku bicara dengan angin," gumamnya. Ia menoleh ke belakang dan melihat Elvina yang berjalan menjauh dari kerumunan.
"Elvina, kau mau kemana?! Tunggu aku." Linda berlari mengejar sahabatnya itu.
Linda meraih tangan Elvina dan menggandengnya seperti menggandeng seorang pria.
"Kau ini kenapa? Kenapa kau pergi begitu saja?"
"Terlalu sesak di sana. Aku butuh ruang," katanya dengan suara pelan.
"Oh, aku mengerti. Memang terlalu banyak orang di sana. Kalau begitu ayo pergi ke bersama." Linda bertengger pada bahu Elvina dan terus melangkah menuju lift agar tiba di lantai dimana divisi mereka berada.
...*...
Sudah lama aku tidak mendengar nama itu terucap dari mulut orang lain. Aku bahkan nyaris lupa kalau nama asliku Liana, batin Lucy dengan kepala tertunduk. Ucapan Leon masih terngiang-ngiang di benaknya.
Leon kembali ke ruangannya setelah mengurus masalahnya. Ia menghampiri Lucy dan duduk di sofa kosong di sampingnya.
"So, apa yang membuatmu datang jauh-jauh dari Inggris ke Indonesia?" tanya Leon membuka pembicaraan.
"Aku sedang dalam perjalanan bisnis."
"Benarkah? Wow, keren. Aku kira kau tinggal di Amerika dan mewujudkan impianmu menjadi seorang agen mata-mata. Aku kira kau akan bergabung dengan CIA. Karena aku ingat betul, kalau sejak dulu kau bercita-cita ingin menjadi agen mata-mata, tapi melihat penampilanmu yang seperti ini…"
...***...